OPTIMALISASI PERAN SERTA MASYARAKAT
DALAM PENYELENGGARAAN PROGRAM PENDIDIKAN
MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Manajemen Hubungan Masyarakat
yang dibina oleh Ibu Dra. Djum Djum Noor Benty, M.Pd
oleh:
Amalia Rosidah
140131604129
Dewi Eka Ratnasari
140131603288
Galuh Hardana Putra
140131602735
Lilis Safitri
140131603315
UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU
PENDIDIKAN
JURUSAN
ADMINISTRASI PENDIDIKAN
Februari 2016
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI.................................................................................................. i
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah....................................................................... 2
C. Tujuan
Penulisan......................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Peran Serta Masyarakat............................................ 4
B.
Tujuan
Peran Serta Masyarakat.................................................. 5
C.
Komponen
Peran Serta Masyarakat........................................... 5
D.
Bentuk
Peran Serta Orang Tua Siswa dan Masyarakat ............ 7
E.
Peranan
Orang Tua Siswa dan Masyarakat
dalam Program Kerja Humas..................................................... 10
F.
Strategi
Peningkatan Peran Serta Masyarakat........................... 11
G.
Faktor
yang Mempengaruhi Peran Serta Masyarakat................ 13
H.
Upaya
Meningkatkan Peran Serta Masyrakat
dalam Program Pendidikan........................................................ 15
I.
Langkah
Pengembangan Kegiatan Peran Serta Masyarakat...... 15
J.
Strategi
Pola dan Proses Membangun Peran Serta
Masyarakat................................................................................. 17
K.
Bentuk
Pola dan Tahapan Kerja dalam Mendorong
Peran Serta Masyarakat.............................................................. 19
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan.................................................................................. 21
DAFTAR
RUJUKAN................................................................................... 22
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Era globalisasi yang ditandai dengan
persaingan yang sangat ketat dalam semua aspek kehidupan, memberi pengaruh
terhadap tuntutan akan kualitas sumber daya manusia, termasuk sumber daya
tenaga pendidik sebagai unsur yang mempunyai posisi sentral dan strategis dalam
pembentukan SDM berkualitas. Kondisi tersebut diiringi dengan tumbuh dan
berkembangnya tuntutan demokratisasi pendidikan, akuntabilitas,
tuntutan kualitas serta jaminan mutu dari dunia kerja. Hal ini mensyaratkan
organisasi dan tenaga pendidik untuk memiliki kualitas yang andal. Seiring dengan
berbagai tuntutan kualitas tersebut pemerintah telah melahirkan berbagai
peraturan perundangan yang pada dasarnya memberikan jaminan kualitas tenaga
pendidik.
Berbagai upaya peningkatan mutu
telah banyak dilakukan, tetapi pendidikan masih dihadapkan kepada berbagai
permasalahan antara lain yang paling krusial adalah rendahnya mutu pendidikan.
Dari berbagai kajian, ternyata salah satu faktor penyebabnya antara lain
adalah: minimnya peran serta masyarakat dalam menentukan kebijakan
organisasi sebagai akibat masyarakat kurang merasa memiliki,
padahal apabila dikaji lebih lanjut beberapa komponen penentu peningkatan mutu
organisasi antara lain adalah manajemen pemberdayaan masyarakat. Untuk itulah
salah satu kebijakan dalam peningkatan manajemen organisasi yang memerlukan peran
serta yang tinggi dari masyarakat secara umum terutama pengguna jasa pelayanan.
Masyarakat dapat
dipandang sebagai pemilik dan pelaku sejati proses pengelolaan dan
penyelenggaraan pendidikan. Hal ini dinyatakan dalam sistem pendidikan nasional
bahwa pendidikan meliputi tiga jalur pendidikan yang saling terkait yakni
pendidikan formal (pemerintah), pendidikan informal (keluarga), dan pendidikan
nonformal (masyarakat). Dengan demikian, pengelolaan dan penyelenggaraan
pendidikan memang tidak hanya dilaksanakan oleh pemerintah dengan seluruh jajarannya tetapi juga melibatkan
pihak keluarga dan masyarakat. Urusan pendidikan memang menjadi urusan pemerintah
sebagai pihak eksekutif atau pihak birokrasi pendidikan, mulai dari tingakt
pusat sampai dengan tingkat yang paling bawah, yakni satuan pendidikan. Namun,
urusan pendidikan harus dilaksanakan secara bersama dengan keluarga dan
masyarakat. .
Keberhasilan
penerapan manajemen yang melibatkan masyarakat sangat tergantung pada kemampuan
pimpinan organisasi untuk dapat berperan secara aktif dalam pengelolaan
organisasi dengan memberdayakan serta mengadakan
pendekatan dan hubungan dengan para pendukungnya di masyarakat, seperti tokoh
masyarakat, tokoh pengusaha, tokoh agama dan tokoh politik atau tokoh
pemerintahan yang terlibat, terlebih memberdayakan masyarakat
pengguna jasa pelayanan. Setiap organisasi mau tidak mau, disadari atau tidak disadari akan selalu terjadi
hubungan dengan lingkungannya yang disebut sebagai supra sistem, hubungan ini
dibutuhkan sebagai upaya menjaga agar sistem atau lembaga itu tetap eksis.
Optimalisasi peran serta dari masyarakat dalam
penyelenggaraan pendidikan pada sebuah organisasi sangat tergantung pada apa
dan bagaimana organisasi melakukan pendekatan untuk memberdayakan mereka
sebagai mitra penyelenggaraan organisasi yang berkualitas. Sebagai institusi organisasi tidak dapat lepas dari masyarakat di
lingkungan organisasi tersebut berada dan dalam pelaksanaan manajemen, peran
serta masyarakat yang baik tidak hanya tergantung pada perencanaan dan
persiapan materi yang baik, tetapi juga ketepatan dalam menentukan dan
menggunakan teknik komunikasi yang digunakan untuk berhubungan dengan
masyarakat, hal ini dimaksudkan untuk mendapat umpan balik dari masyarakat yang
dilakukan dengan pemanfaatan media
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka rumusan masalah adalah sebagai berikut:
1.
Apa pengertian peran serta masyarakat?
2.
Apa tujuan peran serta masyarakat?
3.
Apa saja komponen peran serta masyarakat?
4.
Apa bentuk peran serta orang tua siswa
dan masyarakat?
5.
Bagaimana peranan orang tua siswa dan
masyarakat dalam program kerja humas?
6.
Apa strategi peningkatan peran serta
masyarakat?
7.
Apa saja faktor yang mempengaruhi peran
serta masyarakat?
8.
Bagaimana upaya meningkatkan peran serta
masyarakat dalam program pendidikan?
9.
Apa saja langkah pengembangan kegiatan
peran serta masyarakat?
10. Apa
saja strategi pola dan proses membangun peran serta masyarakat?
11. Apa
saja bentuk pola dan tahapan kerja dalam mendorong peran serta masyarakat?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan
masalah di atas, maka tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui pengertian peran serta
masyarakat.
2.
Untuk mengetahui tujuan peran serta
masyarakat.
3.
Untuk mengetahui komponen peran serta
masyarakat.
4.
Untuk mengetahui bentuk peran serta
orang tua siswa dan masyarakat.
5.
Untuk mengetahui peranan orang tua siswa
dan masyarakat dalam program kerja humas.
6.
Untuk mengetahui strategi peningkatan
peran serta masyarakat.
7.
Untuk mengetahui faktor yang
mempengaruhi peran serta masyarakat.
8.
Untuk mengetahui upaya meningkatkan
peran serta masyarakat dalam program pendidikan.
9.
Untuk mengetahui langkah pengembangan
kegiatan peran serta masyarakat.
10. Untuk
mengetahui strategi pola dan proses membangun peran serta masyarakat.
11. Untuk
mengetahui bentuk pola dan tahapan kerja dalam mendorong peran serta masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Peran Serta Masyarakat
Peran serta dalam Kamus Bahasa Indonesia adalah perihal turut berperan
serta suatu kegiatan atau keikutsertaan atau peran dalam suatu kegiatan.
Sedangkan masyarakat menurut Aly dan Supatra dalam Yulianto (2010) adalah
eksistensi yang hidup, dinamis, dan selalu berkembang. Menurut pendapat
Mubyarto dalam Amransyah (2012) mendefinisikan peran serta sebagai kesediaan
untuk membantu keberhasilan setiap program sesuai dengan kemampuan setiap orang
tanpa berarti mengorbankan kepentingan diri sendiri.
Menurut Canter dalam Amransyah (2012) mendefinisikan peran serta sebagai feed-forward information and feedback
information. Dengan definisi ini, peran serta masyarakat sebagai proses
komunikasi dua arah yang terus menerus dapat diartikan bahwa peran serta
masyarakat merupakan komunikasi antara pihak pemerintah sebagai pemegang
kebijakan dan masyarakat di pihak lain sebagai pihak yang merasakan langsung
dampak dari kebijakan tersebut. Dari pendapat Canter juga tersirat bahwa
masyarakat dapat memberikan respon positif dalam artian mendukung atau
memberikan masukan terhadap program atau kebijakan yang diambil oleh
pemerintah, namun dapat juga menolak kebijakan.
Menurut Suryosubroto dalam Benty dan
Gunawan (2015) mengemukakan hubungan sekolah dengan masyarakat diartikan
sebagai public relation, yaitu
hubungan timbal balik sekolah dengan warga masyarakat. Sedangkan Notoatmodjo
dalam Benty dan Gunawan (2015) berpendapat peran serta masyarakat adalah ikut
sertanya seluruh anggota masyarakat dalam memecahkan permasalahan-permasalahan masyarakat
tersebut.
Wuriyanto dalam Benty dan Gunawan (2015)
mengemukakan peran serta masyarakat adalah kontribusi, sumbangan, dan
keikutsertaan masyarakat dalam menunjang upaya peningkatan mutu pendidikan.
Lembaga pendidikan pada masa sekarang dalam membuat perencanaan, pelaksanaan,
dan monitoring pendidikan melibatkan peran serta masyarakat. Kesadaran tentang
pentingnya pendidikan yang dapat memberikan harapan dan kemungkinan lebih baik
di masa yang akan datang, mendorong berbagai upaya dan perhatian seluruh
lapisan masyarakat. Hal inilah yang melahirkan kesadaran peran serta
masyarakat.
Berdasarkan beberapa pendapat mengenai
pengertian peran serta masyarakat, maka dapat disimpulkan bahwa peran serta
masyarakat adalah pelibatan seseorang atau sekelompok orang dalam suatu
kegiatanyang mendorong mereka untuk menggunakan segala kemampuan yang
dimilikinya serta mendukung pencapaian tujuan dan tanggung jawab atas segala
keterlibatan.
B. Tujuan Peran Serta Masyarakat
Peran
serta masyarakat dalam pendidikan dikemukakan oleh Miarso (2004) bertujuan
untuk:
1. Terbentuknya
kesadaran masyarakat tentang adanya tanggung jawab bersama dalam pendidikan.
2. Terselenggaranya
kerja sama yang saling menguntungkan (memberi dan menerima) antara semua pihak
yang berkepentingan dengan pendidikan.
3. Terciptanya
efektivitas dan efisiensi dalam pemanfaatan sumber daya, meliputi sumber daya
manusia, sumber daya alam, dan sumber daya buatan seperti dana, fasilitas, dan
peraturan-peraturan termasuk perundang-undangan.
4. Meningkatkan
kinerja sekolah yang berarti pula meningkatnya produktivitas, kesempatan
memperoleh pendidikan, keserasian proses dan hasil pendidikan sesuai dengan
kondisi anak didik dan lingkungan, serta komitmen dari para pelaksana
pendidikan.
Tujuan
peran serta masyarakat dalam Peraturan Pemerintah nomor 39 tahun 1992 tentang
Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional adalah mendayagunakan
kemampuan yang ada pada masyarakat bagi pendidikan untuk mewujudkan tujuan
pendidikan nasional.
C. Komponen Peran Serta Masyarakat
Wuriyanto dalam Benty dan Gunawan (2015)
menyatakan yang termasuk komponen masyarakat adalah sebagai berikut.
1.
Tokoh
Masyarakat
Tokoh
masyarakat, yaitu para orang tua siswa atau anggota masyarakat lain yang peduli
terhadap pendidikan. Mereka berasal dari berbagai kelompok, golongan,
pekerjaan, dan profesi.
2.
Tokoh
Agama
Peran
serta tokoh agama tidak hanta berwujud pemberian bantuan dana atau tenaga,
tetapi juga berupa bantuan secara suka rela dalam membimbing siswa. Oleh karena
itu, program kerja sekolah perlu didiskusikan dengan tokoh agama agar
berorientasi pada peningkatan mutu, bukan untuk kepentingan birokrasi. Tokoh
agama seperti para ulama, ustadz, pendeta, dan rohaniwan lainnya.
3.
Dunia
Usaha dan Dunia Industri (Dudi)
Dunia
usaha dan dunia industri dapat dijadikan mitra sekolah dalam hal perbaikan
kualitas pendidikan yang dapat menopang terjadinya pelaksanaan pendidikan yang
sesuai dengan kebutuhan masyarakat.DUDI seperti para pemilik usaha toko,
pabrik, dealer kendaraan bermotor,
dan wiraswastawan yang berada di lingkungan sekolah.
4.
Lembaga
Sosial Budaya
Terdapat
jenis-jenis lembaga sosial budaya seperti organisasi profesi, organisasi
sosial, para pemuka adat, rukun tetangga, rukun warga, bahkan organisasi seni
budaya. Mereka dapat berperan serta dalam menuangkan tenaga, pikiran, keahlian,
dana dan lain sebagainya.
Peran serta mereka dalam pendidikan
berkaitan dengan: (1) pengambilan keputusan; (2) pelaksanaan; dan (3)
penilaian. Peran serta dalam mengambil keputusan misalnya ketika sekolah
mengundang rapat bersama Komite Sekolah untuk membahas, perkembangan sekolah,
maka masyarakat yang dalam hal ini ialah orang tua, anggota komite sekolah,
atau wakil dari dunia bisnis dan industri secara bersama-sama memberikan
sumbangan saran dan berakhir dengan pengambilan keputusan. Berdasarkan
keputusan yang telah disepakati, maka keputusan tersebut tentunya akan
dilaksanakan dalam menunjang pencapaian mutu pendidikan. Dengan demikian
masyarakat yang mendukung program sekolah hasil kesepakatan telah berperan
serta dalam pelaksanaan. Demikian pula dalam perjalanan program, tentunya perlu
kontrol dan upaya-upaya untuk memperbaiki. Hal itu merupakan contoh peran serta
masyarakat dalam mengevaluasi.
Dalam peran serta masyarakat terdapat
dua dimensi yaitu siapa yang berperan serta dan bagaimana berlangsungnya peran
serta. Untuk itu, Cohen dan Uphoff dalam Dwiningrum (2011) mengklasifikasikan
masyarakat berdasarkan latarbelakang dan tanggung jawabnya, yaitu: (1) penduduk
setempat, (2) pemimpin masyarakat, (3) pegawai pemerintahan, (4) pegawai asing
yang mungkin dipertimbangkan memiliki peran penting dalam suatu kegiatan
tertentu.
D. Bentuk Peran Serta Orang Tua Siswa
dan Masyarakat
Ada empat model peran serta orang tua
menurut Elliot dan Swap dalam Benty dan Gunawan (2015), yaitu:
1. Protective
atau Separate Responsibilities
Mengasumsikan
bahwa keluarga dan sekolah masing-masing memiliki tanggung jawab anak yang
saling terpisah satu dengan yang lain, maka dari itu akan menjadi paling
efektif dan efisien jika keluarga maupun sekolah menangani tujuan, target, dan
kegiatannya masing-masing secara saling lepas.
2. School
to Home Transmision atau
Sequential Responsibilities
Mengasumsikan
bahwa keberhasilan anak didukung secara berkelanjutan oleh harapan dan
nilai-nilai antara keluarga atau rumah dan sekolah.
3. Curriculum
Enrichment
Berasumsi
bahwa interaksi antara keluarga dan personel sekolah dapat mendukung kurikulum
dan tujuan pendidikan. Tapi pihak mempunyai keahlian khusus berkaitan dengan
kurikulum atau proses belajar mengajar dan pengajaran.
4. Partnership
atau Shared Responsibilities
Menekankan
koordinasi dan kerja sama sekolah dan keluarga untuk mengembangkan komunikasi
dan kolaborasi. Asumsinya sekolah dan keluarga lebih efektif jika informasi,
nasihat, dan pengalaman dibagi (shared)
secara berkelanjutan di antara semua warga sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Orang tua dapat berperan serta dalam
menyediakan dana, sarana, dan prasarana sekolah sebagai upaya realisasi
program-program sekolah yang telah disusun bersama, serta membina anak-anak
terutama dalam pendidikan moral agar anak tercegah dari sifat dan perilaku yang
kurang baik karena pengaruh lingkungan. Orang tua akan mau membantu sekolah
jika pihak sekolah mampu berkomunikasi dengan baik. Apabila sekolah bersikap
transparan, terutama dalam hal keuangan dan orang tua diikutsertakan dalam pembicaraan
rencana sekolah, maka sudah semestinya orang tua merasa ikut memiliki sekolah.
Penjalinan hubungan sekolah dengan orang tua peserta didik dapat dilakukan
melalui komite sekolah, pertemuan yang direncanakan atau saat penerimaan rapor,
sumber informasi sekolah dan sumber belajar bagi anak, serta secara
bersama-sama memecahkan masalah.
Masyarakat harus mempunyai peran serta
aktif dalam penyelenggaraan pendidikan. Adapun bentuk-bentuk peran serta
masyarakat secara umum menurut Slameto dan Kriswandani dalam Benty dan Gunawan
(2015) dapat berupa:
1.
Fasilitas yang bersifat fisik, seperti
tempat dan perlengkapan berbagai praktikan, atau perlengkapan keterampilan;
2.
Fasilitas yang bersifat non fisik,
seperti waktu, kesempatan biaya, dan berbagai aturan serta kebijakan pimpinan
sekolah.
Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992
tentang Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional pasal IV dalam Benty
dan Gunawan (2015), menyatakan peran serta atau peran serta masyarakat dapat
berbentuk:
1.
Pendirian dan penyelenggaraan satuan
pendidikan pada jalur pendidikan sekolah atau jalur pendidikan luar sekolah,
pada semua jenis pendidikan kecuali pendidikan kedinasan dan pada semua jenjang
pendidikan di jalur pendidikan sekolah.
2.
Pengadaan dan pemberian bantuan tenaga
kependidikan untuk melaksanakan atau membantu melaksanakan pengajaran,
pembimbingan dan/atau pelatihan peserta didik.
3.
Pengadaan dan pemberian bantuan tenaga
ahli untuk membantu pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar dan/atau penelitian
dan pengembangan.
4.
Pengadaan dan/atau penyelenggaraan
program pendidikan yang belum diadakan dan/atau diselenggarakan oleh pemerintah
untuk menunjang pendidikan nasional.
5.
Pengadaan dana dan pemberian bantuan
yang dapat berupa wakaf, hibah, sumbangan, pinjaman, beasiswa, dan bentuk lain
yang sejenis.
6.
Pengadaan dan pemberian bantuan ruangan,
gedung, dan tanah untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.
7.
Pengadaan dan pemberian bantuan buku
pelajaran dan peralatan pendidikan untuk melaksanakan kegiatan
belajar-mengajar.
8.
Pemberian kesempatan untuk magang
dan/atau latihan kerja.
9.
Pemberian bantuan manajemen bagi
penyelenggaraan satuan pendidikan dan pengembangan pendidikan nasional.
10.
Pemberian pemikiran dan pertimbangan
berkenaan dengan penentuan kebijaksanaan dan/atau penyelenggaraan pengembangan
pendidikan.
11.
Pemberian bantuan dan kerja sama dalam
kegiatan penelitian dan pengembangan.
12.
Keikutsertaan dalam program pendidikan
dan/atau penelitian yang diselenggarakan oleh Pemerintah di dalam dan/atau di
luar negeri.
Sedangkan
menurut Soediono dkk (2003) menyatakan terdapat tujuh jenis peran serta orang
tua dalam pendidikan. Adapun peran tersebut diantaranya yaitu:
1. Hanya sekedar pengguna jasa
pelayanan pendidikan yang tersedia. Misalnya, orang tua hanya memasukkan anak
ke sekolah dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah.
2. Memberikan kontribusi dana, bahan,
dan tenaga, misalnya dalam pembangunan gedung sekolah.
3. Menerima secara pasif apa pun yang
diputuskan oleh pihak yang terkait dengan sekolah.
4. Menerima konsultasi mengenai hal-hal
yang terkait dengan kepentingan sekolah. Misalnya, kepala sekolah berkonsultasi
dengan komite sekolah dan orang tua murid mengenai masalah pendidikan, masalah
pembelajaran matematika atau yang lainnya,
5. Memberikan pelayanan tertentu.
Misalnya, sekolah bekerja sama dengan mitra tertentu seperti Komite Sekolah dan
orang tua murid mewakili sekolah bekerjasama dengan Puskesmas untuk memberikan
penyuluhan tentang perlunya sarapan pagi sebelum sekolah, atau makanan yang
bergizi bagi anak-anak.
6. Melaksanakan kegiatan yang telah
didelegasikan atau dilimpahkan sekolah. Sekolah. Misalnya, meminta komite
sekolah dan orang tua murid tertentu untuk memberikan penyuluhan kepada
masyarakat umum tentang pentingnya pendidikan atau hal-hal penting lainnya
untuk kemajuan bersama.
7. Mengambil peran dalam pengambilan keputusan
pada berbagai jenjang. Misalnya orang tua siswa ikut serta membicarakan dan
mengambil keputusan tentang rencana kegiatan pembelajaran di sekolah, baik
dalam pendanaan, pengembangan dan pengadaan alat bantu pembelajarannya.
E. Peranan Orang Tua Siswa dan
Masyarakat dalam Program Kerja Humas
Harjaningrum dalam Benty dan Gunawan
(2015) menyatakan peran serta orang tua di lembaga pendidikan, yaitu suatu
kenyataan bahwa orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Apabila anak
telah masuk sekolah, orang tua adalah mitra kerja yang utama bagi guru anaknya.
Bahkan sebagai orang tua, mereka mempunyai berbagai peran pilihan, yaitu orang
tua sebagai pelajar, orang tua sebagai relawan, orang tua sebagai pembuat
keputusan, dan orang tua sebagai anggota tim kerja sama guru-orang tua. Orang
tua dalam peran-peran tersebut memungkinkan perkembangan dan pertumbuhan
anak-anak mereka.
Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992
tentang Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional dalam Benty dan
Gunawan (2015) yang di dalamnya memuat bahwasanya pendidikan merupakan tanggung
jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan keluarga, menyatakan bahwa:
1.
Peran serta masyarakat dalam pendidikan
meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi,
pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian
mutu layanan pendidikan.
2.
Masyarakat dapat berperan serta sebagai
sumber pelaksana dan pengguna hasil pendidikan.
Sehingga peran serta masyarakat
sangatlah penting dalam peningkatan mutu pendidikan, dengan memberikan
kontribusi baik gagasan/ide-ide, bantuan tenaga, materi yang mungkin peran
pemerintah adanya keterbatasan tertentu, menyumbangkan
keahlian/kreativitas-kreativitas tertentu, peran masyarakat juga sangat penting
dalam tercapainya suatu bentuk visi dan misi sekolah.
F.
Strategi
Peningkatan Peran Serta Masyarakat
Mansyur dalam Benty dan Gunawan (2015)
berpendapat sangat penting bagi sekolah untuk menjalankan peranan kepemimpinan
yang aktif dalam menggalakkan program-program sekolah melalui peran serta aktif
orang tua dan masyarakat. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam
mengupayakan peran serta orang tua dan masyarakat terhadap keberhasilan program
sekolah, yaitu:
1. Menjalin Komunikasi yang Efektif
dengan Orang Tua dan Masyarakat
Peran serta orang tua dan masyarakat
akan tumbuh jika orang tua dan masyarakat juga merasakan manfaat dari
keikutsertaannya dalam program sekolah. Manfaat dapat diartikan luas, termasuk
rasa diperhatikan dan rasa puas karena dapat menyumbangkan kemampuannya bagi kepentingan
sekolah. Salah satu jalan penting untuk membina hubungan dengan masyarakat
adalah menetapkan komunikasi yang efektif. Ada beberapa pendekatan yang dapat
digunakan untuk membangun komunikasi dengan orang tua dan masyarakat, yaitu:
a.
Mengidentifikasi orang-orang kunci,
yaitu orang-orang yang mampu mempengaruhi teman lain. Tokoh-tokoh semacam itu
dapat berasal dari orang tua siswa atau warga masyarakat yang dituakan atau informal leaders, pejabat, tokoh bisnis,
dan profesi lainnya.
b.
Melibatkan orang-orang kunci tersebut
dalam kegiatan sekolah, khususnya yang sesuai dengan minatnya. Selanjutnya
tokoh-tokoh tersebut diperankan sebagai mediator dengan masyarakat luas.
c.
Memilih saat yang tepat, misalnya
pelibatan masyarakat yang hobi olah raga dikaitkan dengan adanya Pekan Olahraga
Nasional atau sejenis yaitu saat minat olah raga di masyarakat sedang naik.
2. Melibatkan Masyarakat dan Orang Tua
dalam Program Sekolah
Pepatah mengatakan tak senang jika tak kenal, juga berlaku dalam hal ini. Oleh karena
itu sekolah harus mengenalkan program dan kegiatannya kepada masyarakat.
Program sekolah tersebut harus bermanfaat juga bagi masyarakat. Oleh sebab itu,
sekolah dapat melakukan:
a. Melaksanakan
program-program kemasyarakatan, misalnya kebersihan lingkungan dan membantu lalu
lintas di sekitar sekolah. Program sederhana semacam ini dapat menumbuhkan
simpati masyarakat.
b. Mengadakan
open house yang memberi kesempatan
masyarakat luas untuk mengetahui program dan kegiatan sekolah. Tentu saja dalam
kesempatan semacam itu sekolah perlu menonjolkan program-program yang menarik
minat masyarakat.
c. Mengadakan
buletin sekolah atau majalah atau lembar informasi yang secara berkala memuat
kegiatan dan program sekolah, untuk diinformasikan kepada masyarakat.
d. Mengundang
tokoh untuk menjadi pembicara atau pembina suatu program sekolah. Misalnya
mengundang dokter yang tinggal di sekitar sekolah atau orang tua untuk menjadi
pembicara atau pembina program kesehatan sekolah.
e. Membuat
program kerja sama sekolah dengan masyarakat, misalnya perayaan hari-hari
nasional maupun keagamaan.
3. Memberdayakan Dewan Sekolah
Keberadaan dewan sekolah akan menjadi
penentu dalam pelaksanaan otonomi pendidikan di sekolah. Melalui dewan sekolah
orang tua dan masyarakat ikut merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi
pengelolaan pendidikan di sekolah. Untuk meningkatkan komitmen peran serta
masyarakat dalam menunjang pendidikan, termasuk dari dunia usaha, perlu
dilakukan antara lain dengan upaya-upaya:
a.
Melibatkan masyarakat dalam pengambilan
keputusan tentang pendidikan terutama di tingkat sekolah. Melalui otonomi,
pengambilan keputusan yang menyangkut pelaksanaan layanan jasa pendidikan akan
semakin mendekati kepentingan masyarakat yang dilayani.
b.
Selanjutnya program imlab swadana, yaitu
pemerintah baru akan memberikan sejumlah bantuan tertentu pada sekolah apabila
masyarakat telah menyediakan sejumlah biaya pendamping.
c.
Mengembangkan sistem sponsorship bagi
kegiatan pendidikan.
d.
Melalui upaya-upaya yang dilakukan pihak
sekolah dalam meningkatkan peran serta masyarakat dan orang tua dalam mendukung
program-program sekolah dapat teroptimalkan.
G. Faktor yang Mempengaruhi Peran
Serta Masyarakat
Slameto dan Kriswandani dalam Benty dan
Gunawan (2015) mengemukakan ada tiga hal yang mempengaruhi peran serta
masyarakat dalam pendidikan, yaitu:
1.
Kesadaran
Masyarakat akan Pentingnya Pendidikan untuk Meningkatkan Taraf Hidup,
Kesejahteraan, dan Martabatnya
Masyarakat
dengan kesadaran seperti ini akan mempunyai pandangan bahwa penyelenggaraan
pendidikan adalah semata-mata untuk mereka. Tugas sekolah adalah memberikan
pencerahan dan penyadaran di tengah-tengah masyarakat bahwa pendidikan
sangatlah penting artinya untuk peningkatan taraf dalam martabat hidup mereka.
2.
Tanggung
Jawab Sekolah
Penyelenggaraan
pendidikan (pihak sekolah) mempunyai semangat dan kemauan untuk memberikan
ruang-ruang atau kesempatan kepada masyarakat untuk berperan serta. Sekolah
dengan memberikan kesempatan atau bahkan dorongan kepada masyarakat untuk ikut
berperan serta mempunyai dampak terhadap kesadaran akan pentingnya pendidikan
dan akan pentingnya masyarakat berperan serta terhadap penyelenggaraan
pendidikan.
3.
Regulasi
Hal ini sangat penting untuk mendorong semua
pihak agar mempunyai kemauan untuk ikut ambil bagian dalam pendidikan.
Pemerintah sebagai pengayom masyarakat diharapkan menjadi pengayom untuk semua
masyarakat dan pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan kondisi
yang kondusif. Pemerintah dalam hal pendidikan membuat regulasi tentang peran
serta masyarakat.
Selain itu, dalam wikipedia.org
terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi peran serta masyarakat dalam
suatu program, sifat faktor-faktor tersebut dapat mendukung suatu keberhasilan
program namun ada juga yang sifatnya dapat menghambat keberhasilan program. Misalnya saja, faktor usia, terbatasnya harta benda,
pendidikan, pekerjaan dan penghasilan. Berikut Penjelasan mengenai beberapa
faktor yang mempengaruhi peran serta masyarakat.
1. Usia
Faktor
usia merupakan faktor yang memengaruhi sikap seseorang terhadap
kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang ada. Mereka dari kelompok usia menengah ke atas dengan keterikatan moral
kepada nilai dan norma masyarakat yang lebih mantap, cenderung lebih banyak yang
berperan serta daripada mereka yang dari kelompok usia lainnya.
2. Jenis Kelamin
Nilai
yang cukup lama dominan dalam kultur berbagai bangsa mengatakan bahwa pada dasarnya tempat perempuan adalah “di dapur” yang berarti bahwa dalam banyak masyarakat
peranan perempuan yang terutama adalah mengurus rumah tangga, akan tetapi
semakin lama nilai peran perempuan tersebut telah bergeser dengan adanya
gerakan emansipasi dan pendidikan perempuan yang semakin baik.
3. Pendidikan
Dikatakan
sebagai salah satu syarat mutlak untuk berperan serta. Pendidikan dianggap dapat memengaruhi sikap hidup seseorang terhadap
lingkungannya, suatu sikap yang diperlukan bagi peningkatan kesejahteraan
seluruh masyarakat.
4. Pekerjaan dan Penghasilan
Hal
ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena pekerjaan seseorang akan menentukan
berapa penghasilan yang akan diperolehnya. Pekerjaan dan penghasilan yang baik
dan mencukupi kebutuhan sehari-hari dapat mendorong seseorang untuk berperan
serta dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Pengertiannya bahwa untuk berperan
serta dalam suatu kegiatan, harus didukung oleh suasana yang mapan
perekonomian.
5. Lamanya Tinggal
Lamanya
seseorang tinggal dalam lingkungan tertentu dan pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan
tersebut akan berpengaruh pada peran serta seseorang. Semakin lama ia tinggal
dalam lingkungan tertentu, maka rasa memiliki terhadap
lingkungan cenderung lebih terlihat dalam peran sertanya yang besar dalam
setiap kegiatan lingkungan tersebut.
H. Upaya Meningkatkan Peran Serta
Masyrakat dalam Program Pendidikan
Slameto dan Kriswandani dalam Benty dan
Gunawan (2015) berpendapat tidak setiap kondisi sosial budaya terbiasa dengan peran
serta, sebagai salah satu bentuk dari budaya demokrasi, maka bisa saja usaha
meningkatkan kualitas sebuah lembaga pendidikan dengan memanfaatkan peran serta
aktif masyarakat tidaklah selalu berjalan mulus. Sekalipun begitu peningkatan peran
serta masyarakat haruslah tetap diusahakan, sekalipun harus diakui tidak
gampang. Hal-hal yang bisa diusahakan antara lain:
1.
Melakukan persuasi kepada masyarakat,
bahwa dengan keikutsertaan masyarakat dalam kebijakan yang dilaksanakan, justru
akan menguntungkan masyarakat sendiri.
2.
Menghimbau masyarakat untuk turut berperan
serta melalui serangkaian kegiatan.
3.
Menggunakan tokoh-tokoh masyarakat yang
mempunyai khalayak banyak untuk ikut serta dalam kebijakan agar masyarakat
kebanyakan yang menjadi pengikutnya juga sekaligus ikut serta dalam kebijakan
yang diimplementasikan.
4.
Mengaitkan keikutsertaan masyarakat
dalam implementasi kebijakan dengan kepentingan mereka, masyarakat memang perlu
diyakinkan bahwa ada banyak kepentingan mereka yang terlayani dengan baik jika
mereka berperan serta dalam kebijakan.
5.
Menyadarkan masyarakat untuk ikut berperan
serta terhadap kebijakan yang telah ditetapkan secara sah dan kebijakan yang
sah tersebut adalah salah satu dari wujud pelaksanaan dan perwujudan aspirasi
masyarakat.
I.
Langkah
Pengembangan Kegiatan Peran Serta Masyarakat
Menurut Benty dan Gunawan (2015) sekolah
dalam meningkatkan peran serta masyarakat dalam program pendidikan sekolah
harus memahami tahapan dalam melaksanakan kerja sama dengan masyarakat.
Tahap-tahap dalam mengembangkan peran serta masyarakat adalah:
1. Melaksanakan
penggalangan, pemimpin dan organisasi di masyarakat melalui dialog untuk
mendapatkan dukungan.
2. Meningkatkan
kemampuan masyarakat dalam mengenal dan memecahkan masalah pendidikan maupun
masyarakat dengan menggali dan menggerakkan sumber daya yang dimiliki oleh
masyarakat, apabila diperlukan bantuan dari luar bentuknya hanya berupa
perangsang atau pelengkap sehingga tidak semata-mata bertumpu pada bantuan
tersebut.
3. Menumbuhkan
dan mengembangkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Peran
serta masyarakat di dalam pembangunan pendidikan dapat diukur dengan makin
banyaknya jumlah anggota masyarakat yang mau hadir ketika ada kegiatan penyuluhan
pendidikan di sekolah.
4. Mengembangkan
semangat gotong-royong dalam pembangunan pendidikan. Semangat gotong-royong
yang merupakan warisan budaya masyarakat Indonesia hendaknya dapat juga
ditentukan dalam upaya peningkatan derajat pendidikan masyarakat. Adanya
semangat gotong-royong ini dapat diukur dengan melihat apakah masyarakat
bersedia bekerjasama dalam kegiatan program pendidikan.
5. Bekerja
bersama masyarakat. Dalam setiap kegiatan program pendidikan, hendaknya
pemerintah atau sekolah menggunakan prinsip bekerja untuk dan bersama
masyarakat. Maka akan meningkatkan motivasi dan kemampuan masyarakat karena
adanya bimbingan, dorongan, alih pengetahuan dan keterampilan dari sekolah
kepada masyarakat.
6. Penyerahan
pengembalian keputusan kepada masyarakat. Sebuah bentuk upaya penggerakan peran
serta masyarakat termasuk di bidang pendidikan apabila ingin berhasil dan
berkesinambungan hendaknya bertumpu pada budaya dan adat setempat. Untuk itu
pembuatan keputusan khususnya yang menyangkut tata cara pelaksanaan kegiatan
guna penyelesaian masalah pendidikan yang ada di masyarakat hendaknya
diserahkan kepada masyarakat. Pemerintah maupun sekolah hanya bertindak sebagai
fasilitator dan dinamisator sehingga masyarakat merasa lebih memiliki tanggung
jawab untuk melaksanakannya.
J.
Strategi
Pola dan Proses Membangun Peran Serta Masyarakat
Slameto dan Kriswandani dalam Benty dan
Gunawan (2015) menyatakan dalam rangka mendorong peran serta orang tua, kepala
sekolah perlu melakukan beberapa hal, yakni:
1. Mengidentifikasi
kebutuhan sekolah dan peran serta orang tua dalam program dan kegiatan sekolah,
dalam hal ini upayakan untuk melibatkan guru, tenaga kependidikan, dan wakil
dewan pendidikan serta komite sekolah dalam identifikasi tersebut.
2. Menyusun
tugas-tugas yang dapat dilakukan bersama dengan orang tua secara fleksibel.
3. Membantu
guru mengembangkan program pelibatan orang tua dalam berbagai aktivitas sekolah
dan pembelajaran.
4. Menginformasikan
secara luas program sekolah dan membuka peluang bagi orang tua untuk melibatkan
diri dalam program tersebut.
5. Mengundang
orang tua untuk menjadi relawan dalam berbagai aktivitas sekolah.
6. Memberikan
penghargaan secara proporsional dan profesional terhadap keterlibatan orang tua
dalam berbagai program dan kegiatan sekolah.
Mansyur dalam Benty dan Gunawan (2015)
mengemukakan bahwa untuk mendorong dan menyadarkan masyarakat agar dapat berperan
serta terhadap sekolah, bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, akan tetapi
menyita banyak pemikiran, banyak tenaga, dan banyak materi. Hal ini karena yang
digerakkan adalah masyarakat, sementara masyarakat adalah manusia, dan manusia
adalah makhluk individu. Setiap individu memiliki karakteristik sifat yang unik,
khas, dinamis (berubah-ubah), dan berbeda-beda. Sesuatu hal yang terpenting
adalah bagaimana mencari formulasi yang tepat, dengan berbagai upaya, strategi,
dan langkah-langkah konkret yang dapat menyentuh hati para partisipan agar mau
bergabung dengan lembaga peran serta masyarakat yang dibentuk. Strategi untuk
mendorong dan menyadarkan masyarakat agar dapat berperan serta terhadap
pendidikan yaitu pendekatan bahasa agama dan ideologis dan pendekatan motivasi
kebutuhan pemenuhan diri (self-fulfilment)
atau pendekatan mutu.
1.
Pendekatan
Bahasa Agama dan Ideologi
Pendekatan
agama ini digunakan untuk memberikan pemahaman, penyadaran, dan pentingnya peran
serta masyarakat terhadap lembaga pendidikan. Pendekatan agama dinilai lebih
efektif dibandingkan dengan pendekatan motivasi, selain itu pendekatan ini
lebih mudah untuk mendorong masyarakat agar berperan serta terhadap lembaga
pendidikan. Pendekatan agama memiliki pandangan bahwa setiap orang akan rela
berkorban untuk peran serta di lembaga pendidikan. Jika sekolah menerapkan
pendekatan agama, maka sangat membutuhkan peran kepala sekolah yang terampil
dan mempunyai motivasi tinggi untuk memajukan sekolah tersebut, karena kepala
sekolah (pemimpin) adalah fokus utama sebagai penggerak, pendorong, dan
penuntun di sebuah lembaga pendidikan. Sehingga kepala sekolah harus dapat
memainkan perannya dengan baik dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat
bagi pengembangan sekolah.
2.
Pendekatan
Motivasi Kebutuhan Pemenuhan Diri (Self-Filfilment)
atau Pendekatan Mutu
Pendekatan
ini digunakan untuk menggerakkan dan mendorong masyarakat yang memiliki tingkat
pendidikan dan pemahaman yang tinggi terhadap dunia pendidikan. Tidak ada
satupun orang tua yang memilih memasukkan anaknya pada suatu lembaga apapun
tanpa memperhatikan kualitas atau mutu dari sebuah sekolah. Semua orang tua
yang memiliki kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai agen perubahan
(the change of knowledge) dan ilmu
pengetahuan sebagai kekuatan (the power
of knowledge) bagi anaknya, maka masalah biaya tidak menjadi persoalan yang
sulit bagi para orang tua. Biasanya tipe masyarakat model ini, berpendapat
bahwa anak adalah masa depan mereka yang tidak ada nilainya dibandingkan dengan
materi lainnya. Sehingga mereka rela apabila diminta untuk mengeluarkan biaya
sebesar apapun untuk pendidikan anak-anak mereka, asal sesuai dengan kualitas
pendidikan yang diharapkan.
Dua pendekatan ini merupakan strategi
yang dapat digunakan sekolah untuk membangun peran serta masyarakat terhadap
lembaga pendidikan. Tanpa strategi ini sekolah akan merasa kesulitan untuk
membangun peran serta masyarakat terhadap pendidikan, khususnya di negara
Indonesia. Pada aspek lain yang harus diketahui sekolah selain pendekatan agama
dan pendekatan mutu adalah aspek kultur dan aspek motivasi. Setiap aktivitas
yang dilakukan masyarakat sangat tergantung pada budaya yang ada di lingkungan
sekitarnya, dan juga motivasi yang ada pada diri masyarakat itu sendiri. Jika
masyarakat mempunyai niat atau motivasi dalam diri mereka, secara sukarela
mereka akan mau berperan serta dalam lembaga pendidikan. Dengan demikian,
sekolah akan mudah mendapatkan peran serta masyarakat luas.
Clark
dalam Nurkolis (2003) mengemukakan bahwa terdapat dua
jenis pendekatan untuk mengajak
orang tua dan masyarakat berperan serta aktif dalam pendidikan, yaitu: (1)
pendekatan school-based dengan cara
mengajak orang tua siswa datang ke
sekolah melalui pertemuan-pertemuan, konferensi, diskusi guru-orang tua dan
mengunjungi anaknya yang sedang belajar di sekolah; dan (2) pendekatan home-based, yaitu orang tua membantu
anaknya belajar di rumah bersama-sama dengan guru yang berkunjung ke rumah.
Keikutsertaan
keluarga dan masyarakat dalam pendidikan memiliki banyak keuntungan, yaitu: (1)
pencapaian akademik dan perkembangan kognitif siswa meningkat secara
signifikan; (2) orang tua dapat mengetahui
perkembangan anaknya dalam proses
pendidikan di sekolah; (3) orang
tua akan menjadi guru yang baik di
rumah; (4) orang tua memiliki sikap
dan pandangan positif terhadap
sekolah.
K. Bentuk Pola dan Tahapan Kerja dalam
Mendorong Peran Serta Masyarakat
Sekolah untuk mendorong masyarakat agar
berperan serta terhadap sekolah, di samping menggunakan pendekatan teori
gerakan sosial, motivasi, dan konsep agama, seperti diuraikan di atas, pendekatan yang lain untuk mendorong peran
serta masyarakat luas terhadap sekolah adalah meletakkan orang-orang yang tepat
pada posisi ketua komite sekolah dan kepala sekolah. Dua posisi ini memiliki
peran yang sangat strategis dalam upaya membangun dan mengelola lembaga
pendidikan menjadi sekolah yang unggul dan kompetitif. Dengan demikian, untuk
mendorong peran serta masyarakat luas agar berperan serta terhadap sekolah,
maka diperlukan bentuk dan pola kerja yang terukur, terarah, dan sistemik.
Esensi pokok penerapan pelembagaan peran serta masyarakat adalah bersama
sekolah meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Mutu adalah sebuah proses terukur untuk
memperbaiki keluaran yang dihasilkan. Mutu sesuatu yang terukur dan rasional.
Mutu adalah tingkat kesempurnaan dari penampilan sesuatu yang sedang diamati.
Perencanaan dengan tanpa persiapan yang mantap akan mengakibatkan pelaksanaan
tidak terarah, yang akan menghabiskan tenaga, biaya, dan waktu, oleh karena itu
untuk mempersiapkan program sebaiknya berdasarkan hasil survei.
Survei yang baik haruslah dengan proses penyusunan rancangan
operasional Survei, kemudian difollow-up
dengan mengumpulkan data. Pengumpulan data dengan mempergunakan teknik
pengumpulan data yang tepat. Setelah data-data itu dikumpulkan, lalu
diorganisir, yang dipersiapkan untuk dianalisis. Menganalisis data akan
berhasil, kalau mempergunakan teknik analisis data yang tepat/cocok. Dari hasil
analaisis data itu kita dapat menyimpulkan dan menilainya.
Program hubungan masyarakat yang
sempurna meliputi juga peran serta guru dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan
yang akan memberi dampak positif terhadap persepsi masyarakat terhadap sekolah.
Sekolah adalah lembaga yang penting untuk menumbuhkan manusia-manusia
pembangunan yang dapat membangun dirinya serta bertanggungjawab atas
pembangunan bangsa. Seorang administrator dapat memperlihatkan data yang
menyatakan bahwa pendidikan di sekolah bukanlah satu-satunya variabel yang
berpengaruh terhadap hasil pendidikan. Orang tua murid dan masyarakat
diharapkan akan memberikan dukungan yang berarti kepada program sekolah, maka
penyampaian informasi tentang sekolah (fakta, pikiran, perasaan, kebutuhan,
sasaran) kepada mereka menjadi kewajiban penting dari setiap administrator
sekolah.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Peran
serta masyarakat adalah pelibatan seseorang atau sekelompok orang dalam suatu
kegiatanyang mendorong mereka untuk menggunakan segala kemampuan yang
dimilikinya serta mendukung pencapaian tujuan dan tanggung jawab atas segala
keterlibatan. Tujuan dari peran serta masyrakat adalah untuk mendayagunakan kemampuan yang ada
pada masyarakat bagi pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan.
Optimalisasi
peran serta dari masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan pada sebuah
organisasi sangat tergantung pada apa dan bagaimana organisasi melakukan
pendekatan untuk memberdayakan komponen peran serta masyarakat yang terdiri
dari tokoh masyarakat, tokoh agama, dunia
usaha dan dunia industri, serta lembaga sosial budaya. Memang dalam peran sertanya,
komponen-komponen tersebut tidak bisa untuk secara penuh melaksanakan peran
sertanya. Hal ini disebabkan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi peran
serta masyarakat, misalnya kesadaran masyarakat, tanggung jawab sekolah, dan
regulasi.
DAFTAR
RUJUKAN
Amransyah,
M. S. 2012. Teori Peran serta Masyarakat Menurut Para Ahli., (Online), (http://child-island.blogspot.com/2012/03/teori-peran
serta-masyarakat-menurt.html), diakses 6 Februari 2016.
Benty, D. D. N., dan Gunawan, I.
2015. Manajemen Hubungan Sekolah dan
Masyarakat. Malang: UM Press.
Dwiningrum,
S. A. 2011. Desentralisasi dan
Pasrtisipasi Masyarakat dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Miarso, Y. 2007. Menyemai Benih Tekonologi Pendidikan. Jakarta:
Kencana Prenada Media Grup.
Nurkolis. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Grasindo.
Peraturan
Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan
Nasional, (Online), (http://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/lt4ce0f6ad2550e/pp-no-39-tahun-1992-peran-serta-masyarakat-dalam-pendidikan-nasional),
diakses 6 Februari 2016.
Sediono,
dkk. 2003. Paket Pelatihan Awal untuk Sekolah dan Masyarakat Menciptakan
Masyarakat Peduli Pendidikan Anak Program MBS. Jakarta: Depdiknas.
Wikipedia. 2015. Peran serta, (Online), (https://id.wikipedia.org/wiki/Peran
serta), diakses 8 Februari 2016.
Yulianto,
J. A. 2010. Peran serta Masyarakat dalam
Pengembangan Pendidikan, (Online), (http://pandidikan.blogspot.com/2010/05/peran
serta-masyarakat-dalam.html), diakses 7 Februari 2016.

0 comment:
Posting Komentar