Pages

Kamis, 10 Maret 2016

Optimalisasi Peran Serta Masyarakat dalam Penyelenggaraan Program Pendidikan



OPTIMALISASI PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENYELENGGARAAN PROGRAM PENDIDIKAN

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Manajemen Hubungan Masyarakat
yang dibina oleh Ibu Dra. Djum Djum Noor Benty, M.Pd




oleh:
Amalia Rosidah
140131604129
Dewi Eka Ratnasari
140131603288
Galuh Hardana Putra
140131602735
Lilis Safitri
140131603315

  
 


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN
Februari 2016




DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI.................................................................................................. i

BAB I      PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang............................................................................ 1
B.  Rumusan Masalah....................................................................... 2
C.  Tujuan Penulisan......................................................................... 3
BAB II     PEMBAHASAN
A.    Pengertian Peran Serta Masyarakat............................................ 4
B.     Tujuan Peran Serta Masyarakat.................................................. 5
C.     Komponen Peran Serta Masyarakat........................................... 5
D.    Bentuk Peran Serta Orang Tua Siswa dan Masyarakat ............ 7
E.     Peranan Orang Tua Siswa dan Masyarakat
dalam Program Kerja Humas..................................................... 10
F.      Strategi Peningkatan Peran Serta Masyarakat........................... 11
G.    Faktor yang Mempengaruhi Peran Serta Masyarakat................ 13
H.    Upaya Meningkatkan Peran Serta Masyrakat
dalam Program Pendidikan........................................................ 15
I.       Langkah Pengembangan Kegiatan Peran Serta Masyarakat...... 15
J.       Strategi Pola dan Proses Membangun Peran Serta
Masyarakat................................................................................. 17
K.    Bentuk Pola dan Tahapan Kerja dalam Mendorong
Peran Serta Masyarakat.............................................................. 19

BAB III   PENUTUP
A.  Kesimpulan.................................................................................. 21

DAFTAR RUJUKAN................................................................................... 22









BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Era globalisasi yang ditandai dengan persaingan yang sangat ketat dalam semua aspek kehidupan, memberi pengaruh terhadap tuntutan akan kualitas sumber daya manusia, termasuk sumber daya tenaga pendidik sebagai unsur yang mempunyai posisi sentral dan strategis dalam pembentukan SDM berkualitas. Kondisi tersebut diiringi dengan tumbuh dan berkembangnya tuntutan demokratisasi pendidikan,  akuntabilitas,  tuntutan kualitas serta jaminan mutu dari dunia kerja. Hal ini mensyaratkan organisasi dan tenaga pendidik untuk memiliki kualitas yang andal. Seiring dengan berbagai tuntutan kualitas tersebut pemerintah telah melahirkan berbagai peraturan perundangan yang pada dasarnya memberikan jaminan kualitas tenaga pendidik.
Berbagai upaya peningkatan mutu telah banyak dilakukan, tetapi pendidikan masih dihadapkan kepada berbagai permasalahan antara lain yang paling krusial adalah rendahnya mutu pendidikan. Dari berbagai kajian, ternyata salah satu faktor penyebabnya antara lain adalah: minimnya peran serta masyarakat dalam menentukan kebijakan  organisasi  sebagai akibat masyarakat kurang merasa memiliki, padahal apabila dikaji lebih lanjut beberapa komponen penentu peningkatan mutu organisasi antara lain adalah manajemen pemberdayaan masyarakat. Untuk itulah salah satu kebijakan dalam peningkatan manajemen organisasi yang memerlukan peran serta yang tinggi dari masyarakat secara umum terutama pengguna jasa pelayanan.
Masyarakat dapat dipandang sebagai pemilik dan pelaku sejati proses pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan. Hal ini dinyatakan dalam sistem pendidikan nasional bahwa pendidikan meliputi tiga jalur pendidikan yang saling terkait yakni pendidikan formal (pemerintah), pendidikan informal (keluarga), dan pendidikan nonformal (masyarakat). Dengan demikian, pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan memang tidak hanya dilaksanakan oleh pemerintah dengan  seluruh jajarannya tetapi juga melibatkan pihak keluarga dan masyarakat. Urusan pendidikan memang menjadi urusan pemerintah sebagai pihak eksekutif atau pihak birokrasi pendidikan, mulai dari tingakt pusat sampai dengan tingkat yang paling bawah, yakni satuan pendidikan. Namun, urusan pendidikan harus dilaksanakan secara bersama dengan keluarga dan masyarakat. .
Keberhasilan penerapan manajemen yang melibatkan masyarakat sangat tergantung pada kemampuan pimpinan organisasi untuk dapat berperan secara aktif dalam pengelolaan organisasi dengan memberdayakan serta mengadakan pendekatan dan hubungan dengan para pendukungnya di masyarakat, seperti tokoh masyarakat, tokoh pengusaha, tokoh agama dan tokoh politik atau tokoh pemerintahan yang terlibat, terlebih memberdayakan masyarakat pengguna jasa pelayanan. Setiap organisasi mau tidak mau, disadari atau tidak disadari akan selalu terjadi hubungan dengan lingkungannya yang disebut sebagai supra sistem, hubungan ini dibutuhkan sebagai upaya menjaga agar sistem atau lembaga itu tetap eksis.
Optimalisasi peran serta dari masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan pada sebuah organisasi sangat tergantung pada apa dan bagaimana organisasi melakukan pendekatan untuk memberdayakan mereka sebagai mitra penyelenggaraan organisasi yang berkualitas. Sebagai institusi organisasi tidak dapat lepas dari masyarakat di lingkungan organisasi tersebut berada dan dalam pelaksanaan manajemen, peran serta masyarakat yang baik tidak hanya tergantung pada perencanaan dan persiapan materi yang baik, tetapi juga ketepatan dalam menentukan dan menggunakan teknik komunikasi yang digunakan untuk berhubungan dengan masyarakat, hal ini dimaksudkan untuk mendapat umpan balik dari masyarakat yang dilakukan dengan pemanfaatan media

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah adalah sebagai berikut:
1.        Apa pengertian peran serta masyarakat?
2.        Apa tujuan peran serta masyarakat?
3.        Apa saja komponen peran serta masyarakat?
4.        Apa bentuk peran serta orang tua siswa dan masyarakat?
5.        Bagaimana peranan orang tua siswa dan masyarakat dalam program kerja humas?
6.        Apa strategi peningkatan peran serta masyarakat?
7.        Apa saja faktor yang mempengaruhi peran serta masyarakat?
8.        Bagaimana upaya meningkatkan peran serta masyarakat dalam program pendidikan?
9.        Apa saja langkah pengembangan kegiatan peran serta masyarakat?
10.    Apa saja strategi pola dan proses membangun peran serta masyarakat?
11.    Apa saja bentuk pola dan tahapan kerja dalam mendorong peran serta masyarakat?

C.  Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.        Untuk mengetahui pengertian peran serta masyarakat.
2.        Untuk mengetahui tujuan peran serta masyarakat.
3.        Untuk mengetahui komponen peran serta masyarakat.
4.        Untuk mengetahui bentuk peran serta orang tua siswa dan masyarakat.
5.        Untuk mengetahui peranan orang tua siswa dan masyarakat dalam program kerja humas.
6.        Untuk mengetahui strategi peningkatan peran serta masyarakat.
7.        Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi peran serta masyarakat.
8.        Untuk mengetahui upaya meningkatkan peran serta masyarakat dalam program pendidikan.
9.        Untuk mengetahui langkah pengembangan kegiatan peran serta masyarakat.
10.    Untuk mengetahui strategi pola dan proses membangun peran serta masyarakat.
11.    Untuk mengetahui bentuk pola dan tahapan kerja dalam mendorong peran serta masyarakat.






BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Peran Serta Masyarakat
Peran serta dalam Kamus Bahasa Indonesia adalah perihal turut berperan serta suatu kegiatan atau keikutsertaan atau peran dalam suatu kegiatan. Sedangkan masyarakat menurut Aly dan Supatra dalam Yulianto (2010)  adalah eksistensi yang hidup, dinamis, dan selalu berkembang. Menurut pendapat Mubyarto dalam Amransyah (2012) mendefinisikan peran serta sebagai kesediaan untuk membantu keberhasilan setiap program sesuai dengan kemampuan setiap orang tanpa berarti mengorbankan kepentingan diri sendiri.
Menurut Canter dalam Amransyah (2012) mendefinisikan peran serta sebagai feed-forward information and feedback information. Dengan definisi ini, peran serta masyarakat sebagai proses komunikasi dua arah yang terus menerus dapat diartikan bahwa peran serta masyarakat merupakan komunikasi antara pihak pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan masyarakat di pihak lain sebagai pihak yang merasakan langsung dampak dari kebijakan tersebut. Dari pendapat Canter juga tersirat bahwa masyarakat dapat memberikan respon positif dalam artian mendukung atau memberikan masukan terhadap program atau kebijakan yang diambil oleh pemerintah, namun dapat juga menolak kebijakan.
Menurut Suryosubroto dalam Benty dan Gunawan (2015) mengemukakan hubungan sekolah dengan masyarakat diartikan sebagai public relation, yaitu hubungan timbal balik sekolah dengan warga masyarakat. Sedangkan Notoatmodjo dalam Benty dan Gunawan (2015) berpendapat peran serta masyarakat adalah ikut sertanya seluruh anggota masyarakat dalam memecahkan permasalahan-permasalahan masyarakat tersebut.
Wuriyanto dalam Benty dan Gunawan (2015) mengemukakan peran serta masyarakat adalah kontribusi, sumbangan, dan keikutsertaan masyarakat dalam menunjang upaya peningkatan mutu pendidikan. Lembaga pendidikan pada masa sekarang dalam membuat perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring pendidikan melibatkan peran serta masyarakat. Kesadaran tentang pentingnya pendidikan yang dapat memberikan harapan dan kemungkinan lebih baik di masa yang akan datang, mendorong berbagai upaya dan perhatian seluruh lapisan masyarakat. Hal inilah yang melahirkan kesadaran peran serta masyarakat.
Berdasarkan beberapa pendapat mengenai pengertian peran serta masyarakat, maka dapat disimpulkan bahwa peran serta masyarakat adalah pelibatan seseorang atau sekelompok orang dalam suatu kegiatanyang mendorong mereka untuk menggunakan segala kemampuan yang dimilikinya serta mendukung pencapaian tujuan dan tanggung jawab atas segala keterlibatan.

B.  Tujuan Peran Serta Masyarakat
Peran serta masyarakat dalam pendidikan dikemukakan oleh Miarso (2004) bertujuan untuk:
1. Terbentuknya kesadaran masyarakat tentang adanya tanggung jawab bersama dalam pendidikan.
2. Terselenggaranya kerja sama yang saling menguntungkan (memberi dan menerima) antara semua pihak yang berkepentingan dengan pendidikan.
3. Terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam pemanfaatan sumber daya, meliputi sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya buatan seperti dana, fasilitas, dan peraturan-peraturan termasuk perundang-undangan.
4. Meningkatkan kinerja sekolah yang berarti pula meningkatnya produktivitas, kesempatan memperoleh pendidikan, keserasian proses dan hasil pendidikan sesuai dengan kondisi anak didik dan lingkungan, serta komitmen dari para pelaksana pendidikan.
Tujuan peran serta masyarakat dalam Peraturan Pemerintah nomor 39 tahun 1992 tentang Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional adalah mendayagunakan kemampuan yang ada pada masyarakat bagi pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

C.  Komponen Peran Serta Masyarakat
Wuriyanto dalam Benty dan Gunawan (2015) menyatakan yang termasuk komponen masyarakat adalah sebagai berikut.
1.    Tokoh Masyarakat
Tokoh masyarakat, yaitu para orang tua siswa atau anggota masyarakat lain yang peduli terhadap pendidikan. Mereka berasal dari berbagai kelompok, golongan, pekerjaan, dan profesi.
2.    Tokoh Agama
Peran serta tokoh agama tidak hanta berwujud pemberian bantuan dana atau tenaga, tetapi juga berupa bantuan secara suka rela dalam membimbing siswa. Oleh karena itu, program kerja sekolah perlu didiskusikan dengan tokoh agama agar berorientasi pada peningkatan mutu, bukan untuk kepentingan birokrasi. Tokoh agama seperti para ulama, ustadz, pendeta, dan rohaniwan lainnya.
3.    Dunia Usaha dan Dunia Industri (Dudi)
Dunia usaha dan dunia industri dapat dijadikan mitra sekolah dalam hal perbaikan kualitas pendidikan yang dapat menopang terjadinya pelaksanaan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.DUDI seperti para pemilik usaha toko, pabrik, dealer kendaraan bermotor, dan wiraswastawan yang berada di lingkungan sekolah.  
4.    Lembaga Sosial Budaya
Terdapat jenis-jenis lembaga sosial budaya seperti organisasi profesi, organisasi sosial, para pemuka adat, rukun tetangga, rukun warga, bahkan organisasi seni budaya. Mereka dapat berperan serta dalam menuangkan tenaga, pikiran, keahlian, dana dan lain sebagainya.
Peran serta mereka dalam pendidikan berkaitan dengan: (1) pengambilan keputusan; (2) pelaksanaan; dan (3) penilaian. Peran serta dalam mengambil keputusan misalnya ketika sekolah mengundang rapat bersama Komite Sekolah untuk membahas, perkembangan sekolah, maka masyarakat yang dalam hal ini ialah orang tua, anggota komite sekolah, atau wakil dari dunia bisnis dan industri secara bersama-sama memberikan sumbangan saran dan berakhir dengan pengambilan keputusan. Berdasarkan keputusan yang telah disepakati, maka keputusan tersebut tentunya akan dilaksanakan dalam menunjang pencapaian mutu pendidikan. Dengan demikian masyarakat yang mendukung program sekolah hasil kesepakatan telah berperan serta dalam pelaksanaan. Demikian pula dalam perjalanan program, tentunya perlu kontrol dan upaya-upaya untuk memperbaiki. Hal itu merupakan contoh peran serta masyarakat dalam mengevaluasi.
Dalam peran serta masyarakat terdapat dua dimensi yaitu siapa yang berperan serta dan bagaimana berlangsungnya peran serta. Untuk itu, Cohen dan Uphoff dalam Dwiningrum (2011) mengklasifikasikan masyarakat berdasarkan latarbelakang dan tanggung jawabnya, yaitu: (1) penduduk setempat, (2) pemimpin masyarakat, (3) pegawai pemerintahan, (4) pegawai asing yang mungkin dipertimbangkan memiliki peran penting dalam suatu kegiatan tertentu.

D.  Bentuk Peran Serta Orang Tua Siswa dan Masyarakat
Ada empat model peran serta orang tua menurut Elliot dan Swap dalam Benty dan Gunawan (2015), yaitu:
1.    Protective atau Separate Responsibilities
Mengasumsikan bahwa keluarga dan sekolah masing-masing memiliki tanggung jawab anak yang saling terpisah satu dengan yang lain, maka dari itu akan menjadi paling efektif dan efisien jika keluarga maupun sekolah menangani tujuan, target, dan kegiatannya masing-masing secara saling lepas.
2.    School to Home Transmision atau Sequential Responsibilities
Mengasumsikan bahwa keberhasilan anak didukung secara berkelanjutan oleh harapan dan nilai-nilai antara keluarga atau rumah dan sekolah.
3.    Curriculum Enrichment
Berasumsi bahwa interaksi antara keluarga dan personel sekolah dapat mendukung kurikulum dan tujuan pendidikan. Tapi pihak mempunyai keahlian khusus berkaitan dengan kurikulum atau proses belajar mengajar dan pengajaran.
4.    Partnership atau Shared Responsibilities
Menekankan koordinasi dan kerja sama sekolah dan keluarga untuk mengembangkan komunikasi dan kolaborasi. Asumsinya sekolah dan keluarga lebih efektif jika informasi, nasihat, dan pengalaman dibagi (shared) secara berkelanjutan di antara semua warga sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Orang tua dapat berperan serta dalam menyediakan dana, sarana, dan prasarana sekolah sebagai upaya realisasi program-program sekolah yang telah disusun bersama, serta membina anak-anak terutama dalam pendidikan moral agar anak tercegah dari sifat dan perilaku yang kurang baik karena pengaruh lingkungan. Orang tua akan mau membantu sekolah jika pihak sekolah mampu berkomunikasi dengan baik. Apabila sekolah bersikap transparan, terutama dalam hal keuangan dan orang tua diikutsertakan dalam pembicaraan rencana sekolah, maka sudah semestinya orang tua merasa ikut memiliki sekolah. Penjalinan hubungan sekolah dengan orang tua peserta didik dapat dilakukan melalui komite sekolah, pertemuan yang direncanakan atau saat penerimaan rapor, sumber informasi sekolah dan sumber belajar bagi anak, serta secara bersama-sama memecahkan masalah.
Masyarakat harus mempunyai peran serta aktif dalam penyelenggaraan pendidikan. Adapun bentuk-bentuk peran serta masyarakat secara umum menurut Slameto dan Kriswandani dalam Benty dan Gunawan (2015) dapat berupa:
1.    Fasilitas yang bersifat fisik, seperti tempat dan perlengkapan berbagai praktikan, atau perlengkapan keterampilan;
2.    Fasilitas yang bersifat non fisik, seperti waktu, kesempatan biaya, dan berbagai aturan serta kebijakan pimpinan sekolah.
Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional pasal IV dalam Benty dan Gunawan (2015), menyatakan peran serta atau peran serta masyarakat dapat berbentuk:
1.        Pendirian dan penyelenggaraan satuan pendidikan pada jalur pendidikan sekolah atau jalur pendidikan luar sekolah, pada semua jenis pendidikan kecuali pendidikan kedinasan dan pada semua jenjang pendidikan di jalur pendidikan sekolah.
2.        Pengadaan dan pemberian bantuan tenaga kependidikan untuk melaksanakan atau membantu melaksanakan pengajaran, pembimbingan dan/atau pelatihan peserta didik.
3.        Pengadaan dan pemberian bantuan tenaga ahli untuk membantu pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar dan/atau penelitian dan pengembangan.
4.        Pengadaan dan/atau penyelenggaraan program pendidikan yang belum diadakan dan/atau diselenggarakan oleh pemerintah untuk menunjang pendidikan nasional.
5.        Pengadaan dana dan pemberian bantuan yang dapat berupa wakaf, hibah, sumbangan, pinjaman, beasiswa, dan bentuk lain yang sejenis.
6.        Pengadaan dan pemberian bantuan ruangan, gedung, dan tanah untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.
7.        Pengadaan dan pemberian bantuan buku pelajaran dan peralatan pendidikan untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.
8.        Pemberian kesempatan untuk magang dan/atau latihan kerja.
9.        Pemberian bantuan manajemen bagi penyelenggaraan satuan pendidikan dan pengembangan pendidikan nasional.
10.    Pemberian pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan penentuan kebijaksanaan dan/atau penyelenggaraan pengembangan pendidikan.
11.    Pemberian bantuan dan kerja sama dalam kegiatan penelitian dan pengembangan.
12.    Keikutsertaan dalam program pendidikan dan/atau penelitian yang diselenggarakan oleh Pemerintah di dalam dan/atau di luar negeri.
            Sedangkan menurut Soediono dkk (2003) menyatakan terdapat tujuh jenis peran serta orang tua dalam pendidikan. Adapun peran tersebut diantaranya yaitu:
1.       Hanya sekedar pengguna jasa pelayanan pendidikan yang tersedia. Misalnya, orang tua hanya memasukkan anak ke sekolah dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah.
2.       Memberikan kontribusi dana, bahan, dan tenaga, misalnya dalam pembangunan gedung sekolah.
3.       Menerima secara pasif apa pun yang diputuskan oleh pihak yang terkait dengan sekolah.
4.       Menerima konsultasi mengenai hal-hal yang terkait dengan kepentingan sekolah. Misalnya, kepala sekolah berkonsultasi dengan komite sekolah dan orang tua murid mengenai masalah pendidikan, masalah pembelajaran matematika atau yang lainnya,
5.       Memberikan pelayanan tertentu. Misalnya, sekolah bekerja sama dengan mitra tertentu seperti Komite Sekolah dan orang tua murid mewakili sekolah bekerjasama dengan Puskesmas untuk memberikan penyuluhan tentang perlunya sarapan pagi sebelum sekolah, atau makanan yang bergizi bagi anak-anak.
6.       Melaksanakan kegiatan yang telah didelegasikan atau dilimpahkan sekolah. Sekolah. Misalnya, meminta komite sekolah dan orang tua murid tertentu untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat umum tentang pentingnya pendidikan atau hal-hal penting lainnya untuk kemajuan bersama.
7.       Mengambil peran dalam pengambilan keputusan pada berbagai jenjang. Misalnya orang tua siswa ikut serta membicarakan dan mengambil keputusan tentang rencana kegiatan pembelajaran di sekolah, baik dalam pendanaan, pengembangan dan pengadaan alat bantu pembelajarannya.

E.  Peranan Orang Tua Siswa dan Masyarakat dalam Program Kerja Humas
Harjaningrum dalam Benty dan Gunawan (2015) menyatakan peran serta orang tua di lembaga pendidikan, yaitu suatu kenyataan bahwa orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Apabila anak telah masuk sekolah, orang tua adalah mitra kerja yang utama bagi guru anaknya. Bahkan sebagai orang tua, mereka mempunyai berbagai peran pilihan, yaitu orang tua sebagai pelajar, orang tua sebagai relawan, orang tua sebagai pembuat keputusan, dan orang tua sebagai anggota tim kerja sama guru-orang tua. Orang tua dalam peran-peran tersebut memungkinkan perkembangan dan pertumbuhan anak-anak mereka.
Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional dalam Benty dan Gunawan (2015) yang di dalamnya memuat bahwasanya pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan keluarga, menyatakan bahwa:
1.    Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.
2.    Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber pelaksana dan pengguna hasil pendidikan.
Sehingga peran serta masyarakat sangatlah penting dalam peningkatan mutu pendidikan, dengan memberikan kontribusi baik gagasan/ide-ide, bantuan tenaga, materi yang mungkin peran pemerintah adanya keterbatasan tertentu, menyumbangkan keahlian/kreativitas-kreativitas tertentu, peran masyarakat juga sangat penting dalam tercapainya suatu bentuk visi dan misi sekolah.

F.   Strategi Peningkatan Peran Serta Masyarakat
Mansyur dalam Benty dan Gunawan (2015) berpendapat sangat penting bagi sekolah untuk menjalankan peranan kepemimpinan yang aktif dalam menggalakkan program-program sekolah melalui peran serta aktif orang tua dan masyarakat. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam mengupayakan peran serta orang tua dan masyarakat terhadap keberhasilan program sekolah, yaitu:
1.    Menjalin Komunikasi yang Efektif dengan Orang Tua dan Masyarakat
Peran serta orang tua dan masyarakat akan tumbuh jika orang tua dan masyarakat juga merasakan manfaat dari keikutsertaannya dalam program sekolah. Manfaat dapat diartikan luas, termasuk rasa diperhatikan dan rasa puas karena dapat menyumbangkan kemampuannya bagi kepentingan sekolah. Salah satu jalan penting untuk membina hubungan dengan masyarakat adalah menetapkan komunikasi yang efektif. Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk membangun komunikasi dengan orang tua dan masyarakat, yaitu:
a.    Mengidentifikasi orang-orang kunci, yaitu orang-orang yang mampu mempengaruhi teman lain. Tokoh-tokoh semacam itu dapat berasal dari orang tua siswa atau warga masyarakat yang dituakan atau informal leaders, pejabat, tokoh bisnis, dan profesi lainnya.
b.    Melibatkan orang-orang kunci tersebut dalam kegiatan sekolah, khususnya yang sesuai dengan minatnya. Selanjutnya tokoh-tokoh tersebut diperankan sebagai mediator dengan masyarakat luas.
c.    Memilih saat yang tepat, misalnya pelibatan masyarakat yang hobi olah raga dikaitkan dengan adanya Pekan Olahraga Nasional atau sejenis yaitu saat minat olah raga di masyarakat sedang naik.
2.    Melibatkan Masyarakat dan Orang Tua dalam Program Sekolah
Pepatah mengatakan tak senang jika tak kenal, juga berlaku dalam hal ini. Oleh karena itu sekolah harus mengenalkan program dan kegiatannya kepada masyarakat. Program sekolah tersebut harus bermanfaat juga bagi masyarakat. Oleh sebab itu, sekolah dapat melakukan:
a.    Melaksanakan program-program kemasyarakatan, misalnya kebersihan lingkungan dan membantu lalu lintas di sekitar sekolah. Program sederhana semacam ini dapat menumbuhkan simpati masyarakat.
b.    Mengadakan open house yang memberi kesempatan masyarakat luas untuk mengetahui program dan kegiatan sekolah. Tentu saja dalam kesempatan semacam itu sekolah perlu menonjolkan program-program yang menarik minat masyarakat.
c.    Mengadakan buletin sekolah atau majalah atau lembar informasi yang secara berkala memuat kegiatan dan program sekolah, untuk diinformasikan kepada masyarakat.
d.   Mengundang tokoh untuk menjadi pembicara atau pembina suatu program sekolah. Misalnya mengundang dokter yang tinggal di sekitar sekolah atau orang tua untuk menjadi pembicara atau pembina program kesehatan sekolah.
e.    Membuat program kerja sama sekolah dengan masyarakat, misalnya perayaan hari-hari nasional maupun keagamaan.
3.    Memberdayakan Dewan Sekolah
Keberadaan dewan sekolah akan menjadi penentu dalam pelaksanaan otonomi pendidikan di sekolah. Melalui dewan sekolah orang tua dan masyarakat ikut merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi pengelolaan pendidikan di sekolah. Untuk meningkatkan komitmen peran serta masyarakat dalam menunjang pendidikan, termasuk dari dunia usaha, perlu dilakukan antara lain dengan upaya-upaya:
a.    Melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan tentang pendidikan terutama di tingkat sekolah. Melalui otonomi, pengambilan keputusan yang menyangkut pelaksanaan layanan jasa pendidikan akan semakin mendekati kepentingan masyarakat yang dilayani.
b.    Selanjutnya program imlab swadana, yaitu pemerintah baru akan memberikan sejumlah bantuan tertentu pada sekolah apabila masyarakat telah menyediakan sejumlah biaya pendamping.
c.    Mengembangkan sistem sponsorship bagi kegiatan pendidikan.
d.   Melalui upaya-upaya yang dilakukan pihak sekolah dalam meningkatkan peran serta masyarakat dan orang tua dalam mendukung program-program sekolah dapat teroptimalkan.

G. Faktor yang Mempengaruhi Peran Serta Masyarakat
Slameto dan Kriswandani dalam Benty dan Gunawan (2015) mengemukakan ada tiga hal yang mempengaruhi peran serta masyarakat dalam pendidikan, yaitu:
1.    Kesadaran Masyarakat akan Pentingnya Pendidikan untuk Meningkatkan Taraf Hidup, Kesejahteraan, dan Martabatnya
Masyarakat dengan kesadaran seperti ini akan mempunyai pandangan bahwa penyelenggaraan pendidikan adalah semata-mata untuk mereka. Tugas sekolah adalah memberikan pencerahan dan penyadaran di tengah-tengah masyarakat bahwa pendidikan sangatlah penting artinya untuk peningkatan taraf dalam martabat hidup mereka.
2.    Tanggung Jawab Sekolah
Penyelenggaraan pendidikan (pihak sekolah) mempunyai semangat dan kemauan untuk memberikan ruang-ruang atau kesempatan kepada masyarakat untuk berperan serta. Sekolah dengan memberikan kesempatan atau bahkan dorongan kepada masyarakat untuk ikut berperan serta mempunyai dampak terhadap kesadaran akan pentingnya pendidikan dan akan pentingnya masyarakat berperan serta terhadap penyelenggaraan pendidikan.
3.    Regulasi
 Hal ini sangat penting untuk mendorong semua pihak agar mempunyai kemauan untuk ikut ambil bagian dalam pendidikan. Pemerintah sebagai pengayom masyarakat diharapkan menjadi pengayom untuk semua masyarakat dan pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan kondisi yang kondusif. Pemerintah dalam hal pendidikan membuat regulasi tentang peran serta masyarakat. 
Selain itu, dalam wikipedia.org terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi peran serta masyarakat dalam suatu program, sifat faktor-faktor tersebut dapat mendukung suatu keberhasilan program namun ada juga yang sifatnya dapat menghambat keberhasilan program. Misalnya saja, faktor usia, terbatasnya harta benda, pendidikan, pekerjaan dan penghasilan. Berikut Penjelasan mengenai beberapa faktor yang mempengaruhi peran serta masyarakat.
1. Usia
Faktor usia merupakan faktor yang memengaruhi sikap seseorang terhadap kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang ada. Mereka dari kelompok usia menengah ke atas dengan keterikatan moral kepada nilai dan norma masyarakat yang lebih mantap, cenderung lebih banyak yang berperan serta daripada mereka yang dari kelompok usia lainnya.
2. Jenis Kelamin
Nilai yang cukup lama dominan dalam kultur berbagai bangsa mengatakan bahwa pada dasarnya tempat perempuan adalah “di dapur” yang berarti bahwa dalam banyak masyarakat peranan perempuan yang terutama adalah mengurus rumah tangga, akan tetapi semakin lama nilai peran perempuan tersebut telah bergeser dengan adanya gerakan emansipasi dan pendidikan perempuan yang semakin baik.
3. Pendidikan
Dikatakan sebagai salah satu syarat mutlak untuk berperan serta. Pendidikan dianggap dapat memengaruhi sikap hidup seseorang terhadap lingkungannya, suatu sikap yang diperlukan bagi peningkatan kesejahteraan seluruh masyarakat.
4. Pekerjaan dan Penghasilan
Hal ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena pekerjaan seseorang akan menentukan berapa penghasilan yang akan diperolehnya. Pekerjaan dan penghasilan yang baik dan mencukupi kebutuhan sehari-hari dapat mendorong seseorang untuk berperan serta dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Pengertiannya bahwa untuk berperan serta dalam suatu kegiatan, harus didukung oleh suasana yang mapan perekonomian.
5. Lamanya Tinggal
Lamanya seseorang tinggal dalam lingkungan tertentu dan pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan tersebut akan berpengaruh pada peran serta seseorang. Semakin lama ia tinggal dalam lingkungan tertentu, maka rasa memiliki terhadap lingkungan cenderung lebih terlihat dalam peran sertanya yang besar dalam setiap kegiatan lingkungan tersebut.

H.  Upaya Meningkatkan Peran Serta Masyrakat dalam Program Pendidikan
Slameto dan Kriswandani dalam Benty dan Gunawan (2015) berpendapat tidak setiap kondisi sosial budaya terbiasa dengan peran serta, sebagai salah satu bentuk dari budaya demokrasi, maka bisa saja usaha meningkatkan kualitas sebuah lembaga pendidikan dengan memanfaatkan peran serta aktif masyarakat tidaklah selalu berjalan mulus. Sekalipun begitu peningkatan peran serta masyarakat haruslah tetap diusahakan, sekalipun harus diakui tidak gampang. Hal-hal yang bisa diusahakan antara lain:
1.    Melakukan persuasi kepada masyarakat, bahwa dengan keikutsertaan masyarakat dalam kebijakan yang dilaksanakan, justru akan menguntungkan masyarakat sendiri.
2.    Menghimbau masyarakat untuk turut berperan serta melalui serangkaian kegiatan.
3.    Menggunakan tokoh-tokoh masyarakat yang mempunyai khalayak banyak untuk ikut serta dalam kebijakan agar masyarakat kebanyakan yang menjadi pengikutnya juga sekaligus ikut serta dalam kebijakan yang diimplementasikan.
4.    Mengaitkan keikutsertaan masyarakat dalam implementasi kebijakan dengan kepentingan mereka, masyarakat memang perlu diyakinkan bahwa ada banyak kepentingan mereka yang terlayani dengan baik jika mereka berperan serta dalam kebijakan.
5.    Menyadarkan masyarakat untuk ikut berperan serta terhadap kebijakan yang telah ditetapkan secara sah dan kebijakan yang sah tersebut adalah salah satu dari wujud pelaksanaan dan perwujudan aspirasi masyarakat.

I.     Langkah Pengembangan Kegiatan Peran Serta Masyarakat
Menurut Benty dan Gunawan (2015) sekolah dalam meningkatkan peran serta masyarakat dalam program pendidikan sekolah harus memahami tahapan dalam melaksanakan kerja sama dengan masyarakat. Tahap-tahap dalam mengembangkan peran serta masyarakat adalah:
1.    Melaksanakan penggalangan, pemimpin dan organisasi di masyarakat melalui dialog untuk mendapatkan dukungan.
2.    Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenal dan memecahkan masalah pendidikan maupun masyarakat dengan menggali dan menggerakkan sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat, apabila diperlukan bantuan dari luar bentuknya hanya berupa perangsang atau pelengkap sehingga tidak semata-mata bertumpu pada bantuan tersebut.
3.    Menumbuhkan dan mengembangkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Peran serta masyarakat di dalam pembangunan pendidikan dapat diukur dengan makin banyaknya jumlah anggota masyarakat yang mau hadir ketika ada kegiatan penyuluhan pendidikan di sekolah.
4.    Mengembangkan semangat gotong-royong dalam pembangunan pendidikan. Semangat gotong-royong yang merupakan warisan budaya masyarakat Indonesia hendaknya dapat juga ditentukan dalam upaya peningkatan derajat pendidikan masyarakat. Adanya semangat gotong-royong ini dapat diukur dengan melihat apakah masyarakat bersedia bekerjasama dalam kegiatan program pendidikan.
5.    Bekerja bersama masyarakat. Dalam setiap kegiatan program pendidikan, hendaknya pemerintah atau sekolah menggunakan prinsip bekerja untuk dan bersama masyarakat. Maka akan meningkatkan motivasi dan kemampuan masyarakat karena adanya bimbingan, dorongan, alih pengetahuan dan keterampilan dari sekolah kepada masyarakat.
6.    Penyerahan pengembalian keputusan kepada masyarakat. Sebuah bentuk upaya penggerakan peran serta masyarakat termasuk di bidang pendidikan apabila ingin berhasil dan berkesinambungan hendaknya bertumpu pada budaya dan adat setempat. Untuk itu pembuatan keputusan khususnya yang menyangkut tata cara pelaksanaan kegiatan guna penyelesaian masalah pendidikan yang ada di masyarakat hendaknya diserahkan kepada masyarakat. Pemerintah maupun sekolah hanya bertindak sebagai fasilitator dan dinamisator sehingga masyarakat merasa lebih memiliki tanggung jawab untuk melaksanakannya.



J.    Strategi Pola dan Proses Membangun Peran Serta Masyarakat
Slameto dan Kriswandani dalam Benty dan Gunawan (2015) menyatakan dalam rangka mendorong peran serta orang tua, kepala sekolah perlu melakukan beberapa hal, yakni:
1.    Mengidentifikasi kebutuhan sekolah dan peran serta orang tua dalam program dan kegiatan sekolah, dalam hal ini upayakan untuk melibatkan guru, tenaga kependidikan, dan wakil dewan pendidikan serta komite sekolah dalam identifikasi tersebut.
2.    Menyusun tugas-tugas yang dapat dilakukan bersama dengan orang tua secara fleksibel.
3.    Membantu guru mengembangkan program pelibatan orang tua dalam berbagai aktivitas sekolah dan pembelajaran.
4.    Menginformasikan secara luas program sekolah dan membuka peluang bagi orang tua untuk melibatkan diri dalam program tersebut.
5.    Mengundang orang tua untuk menjadi relawan dalam berbagai aktivitas sekolah.
6.    Memberikan penghargaan secara proporsional dan profesional terhadap keterlibatan orang tua dalam berbagai program dan kegiatan sekolah.
Mansyur dalam Benty dan Gunawan (2015) mengemukakan bahwa untuk mendorong dan menyadarkan masyarakat agar dapat berperan serta terhadap sekolah, bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, akan tetapi menyita banyak pemikiran, banyak tenaga, dan banyak materi. Hal ini karena yang digerakkan adalah masyarakat, sementara masyarakat adalah manusia, dan manusia adalah makhluk individu. Setiap individu memiliki karakteristik sifat yang unik, khas, dinamis (berubah-ubah), dan berbeda-beda. Sesuatu hal yang terpenting adalah bagaimana mencari formulasi yang tepat, dengan berbagai upaya, strategi, dan langkah-langkah konkret yang dapat menyentuh hati para partisipan agar mau bergabung dengan lembaga peran serta masyarakat yang dibentuk. Strategi untuk mendorong dan menyadarkan masyarakat agar dapat berperan serta terhadap pendidikan yaitu pendekatan bahasa agama dan ideologis dan pendekatan motivasi kebutuhan pemenuhan diri (self-fulfilment) atau pendekatan mutu.

1.    Pendekatan Bahasa Agama dan Ideologi
Pendekatan agama ini digunakan untuk memberikan pemahaman, penyadaran, dan pentingnya peran serta masyarakat terhadap lembaga pendidikan. Pendekatan agama dinilai lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan motivasi, selain itu pendekatan ini lebih mudah untuk mendorong masyarakat agar berperan serta terhadap lembaga pendidikan. Pendekatan agama memiliki pandangan bahwa setiap orang akan rela berkorban untuk peran serta di lembaga pendidikan. Jika sekolah menerapkan pendekatan agama, maka sangat membutuhkan peran kepala sekolah yang terampil dan mempunyai motivasi tinggi untuk memajukan sekolah tersebut, karena kepala sekolah (pemimpin) adalah fokus utama sebagai penggerak, pendorong, dan penuntun di sebuah lembaga pendidikan. Sehingga kepala sekolah harus dapat memainkan perannya dengan baik dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat bagi pengembangan sekolah.
2.    Pendekatan Motivasi Kebutuhan Pemenuhan Diri (Self-Filfilment) atau Pendekatan Mutu
Pendekatan ini digunakan untuk menggerakkan dan mendorong masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan dan pemahaman yang tinggi terhadap dunia pendidikan. Tidak ada satupun orang tua yang memilih memasukkan anaknya pada suatu lembaga apapun tanpa memperhatikan kualitas atau mutu dari sebuah sekolah. Semua orang tua yang memiliki kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai agen perubahan (the change of knowledge) dan ilmu pengetahuan sebagai kekuatan (the power of knowledge) bagi anaknya, maka masalah biaya tidak menjadi persoalan yang sulit bagi para orang tua. Biasanya tipe masyarakat model ini, berpendapat bahwa anak adalah masa depan mereka yang tidak ada nilainya dibandingkan dengan materi lainnya. Sehingga mereka rela apabila diminta untuk mengeluarkan biaya sebesar apapun untuk pendidikan anak-anak mereka, asal sesuai dengan kualitas pendidikan yang diharapkan.
Dua pendekatan ini merupakan strategi yang dapat digunakan sekolah untuk membangun peran serta masyarakat terhadap lembaga pendidikan. Tanpa strategi ini sekolah akan merasa kesulitan untuk membangun peran serta masyarakat terhadap pendidikan, khususnya di negara Indonesia. Pada aspek lain yang harus diketahui sekolah selain pendekatan agama dan pendekatan mutu adalah aspek kultur dan aspek motivasi. Setiap aktivitas yang dilakukan masyarakat sangat tergantung pada budaya yang ada di lingkungan sekitarnya, dan juga motivasi yang ada pada diri masyarakat itu sendiri. Jika masyarakat mempunyai niat atau motivasi dalam diri mereka, secara sukarela mereka akan mau berperan serta dalam lembaga pendidikan. Dengan demikian, sekolah akan mudah mendapatkan peran serta masyarakat luas.
Clark dalam Nurkolis (2003) mengemukakan bahwa terdapat dua
jenis pendekatan untuk mengajak orang tua dan masyarakat berperan serta aktif dalam pendidikan, yaitu: (1) pendekatan school-based dengan cara
mengajak orang tua siswa datang ke sekolah melalui pertemuan-pertemuan, konferensi, diskusi guru-orang tua dan mengunjungi anaknya yang sedang belajar di sekolah; dan (2) pendekatan home-based, yaitu orang tua membantu anaknya belajar di rumah bersama-sama dengan guru yang berkunjung ke rumah.
Keikutsertaan keluarga dan masyarakat dalam pendidikan memiliki banyak keuntungan, yaitu: (1) pencapaian akademik dan perkembangan kognitif siswa meningkat secara signifikan; (2) orang tua dapat mengetahui
perkembangan anaknya dalam proses pendidikan di sekolah; (3) orang
tua akan menjadi guru yang baik di rumah; (4) orang tua memiliki sikap
dan pandangan positif terhadap sekolah.

K. Bentuk Pola dan Tahapan Kerja dalam Mendorong Peran Serta Masyarakat
Sekolah untuk mendorong masyarakat agar berperan serta terhadap sekolah, di samping menggunakan pendekatan teori gerakan sosial, motivasi, dan konsep agama, seperti diuraikan di  atas, pendekatan yang lain untuk mendorong peran serta masyarakat luas terhadap sekolah adalah meletakkan orang-orang yang tepat pada posisi ketua komite sekolah dan kepala sekolah. Dua posisi ini memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya membangun dan mengelola lembaga pendidikan menjadi sekolah yang unggul dan kompetitif. Dengan demikian, untuk mendorong peran serta masyarakat luas agar berperan serta terhadap sekolah, maka diperlukan bentuk dan pola kerja yang terukur, terarah, dan sistemik. Esensi pokok penerapan pelembagaan peran serta masyarakat adalah bersama sekolah meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Mutu adalah sebuah proses terukur untuk memperbaiki keluaran yang dihasilkan. Mutu sesuatu yang terukur dan rasional. Mutu adalah tingkat kesempurnaan dari penampilan sesuatu yang sedang diamati. Perencanaan dengan tanpa persiapan yang mantap akan mengakibatkan pelaksanaan tidak terarah, yang akan menghabiskan tenaga, biaya, dan waktu, oleh karena itu untuk mempersiapkan program sebaiknya berdasarkan hasil survei.
Survei yang baik haruslah dengan proses penyusunan rancangan operasional Survei, kemudian difollow-up dengan mengumpulkan data. Pengumpulan data dengan mempergunakan teknik pengumpulan data yang tepat. Setelah data-data itu dikumpulkan, lalu diorganisir, yang dipersiapkan untuk dianalisis. Menganalisis data akan berhasil, kalau mempergunakan teknik analisis data yang tepat/cocok. Dari hasil analaisis data itu kita dapat menyimpulkan dan menilainya.
Program hubungan masyarakat yang sempurna meliputi juga peran serta guru dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang akan memberi dampak positif terhadap persepsi masyarakat terhadap sekolah. Sekolah adalah lembaga yang penting untuk menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya serta bertanggungjawab atas pembangunan bangsa. Seorang administrator dapat memperlihatkan data yang menyatakan bahwa pendidikan di sekolah bukanlah satu-satunya variabel yang berpengaruh terhadap hasil pendidikan. Orang tua murid dan masyarakat diharapkan akan memberikan dukungan yang berarti kepada program sekolah, maka penyampaian informasi tentang sekolah (fakta, pikiran, perasaan, kebutuhan, sasaran) kepada mereka menjadi kewajiban penting dari setiap administrator sekolah.






BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Peran serta masyarakat adalah pelibatan seseorang atau sekelompok orang dalam suatu kegiatanyang mendorong mereka untuk menggunakan segala kemampuan yang dimilikinya serta mendukung pencapaian tujuan dan tanggung jawab atas segala keterlibatan. Tujuan dari peran serta masyrakat adalah untuk mendayagunakan kemampuan yang ada pada masyarakat bagi pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan.
Optimalisasi peran serta dari masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan pada sebuah organisasi sangat tergantung pada apa dan bagaimana organisasi melakukan pendekatan untuk memberdayakan komponen peran serta masyarakat yang terdiri dari tokoh masyarakat, tokoh agama, dunia usaha dan dunia industri, serta lembaga sosial budaya. Memang dalam peran sertanya, komponen-komponen tersebut tidak bisa untuk secara penuh melaksanakan peran sertanya. Hal ini disebabkan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi peran serta masyarakat, misalnya kesadaran masyarakat, tanggung jawab sekolah, dan regulasi.











DAFTAR RUJUKAN
Amransyah, M. S. 2012. Teori Peran serta Masyarakat Menurut Para Ahli., (Online), (http://child-island.blogspot.com/2012/03/teori-peran serta-masyarakat-menurt.html), diakses 6 Februari 2016.
Benty, D. D. N., dan Gunawan, I. 2015. Manajemen Hubungan Sekolah dan Masyarakat. Malang: UM Press.
Dwiningrum, S. A. 2011. Desentralisasi dan Pasrtisipasi Masyarakat dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Miarso, Y. 2007.  Menyemai Benih Tekonologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Nurkolis. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Grasindo.
Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional, (Online), (http://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/lt4ce0f6ad2550e/pp-no-39-tahun-1992-peran-serta-masyarakat-dalam-pendidikan-nasional), diakses 6 Februari 2016.
Sediono, dkk. 2003. Paket Pelatihan Awal untuk Sekolah dan Masyarakat Menciptakan Masyarakat Peduli Pendidikan Anak Program MBS. Jakarta: Depdiknas.
Wikipedia. 2015. Peran serta, (Online), (https://id.wikipedia.org/wiki/Peran serta), diakses 8 Februari 2016.


0 comment:

Posting Komentar