Pages

Kamis, 31 Maret 2016

Pendiidkan dan Nilai-Nilai Budaya



BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang
Pendidikan diadakan, tentu memiliki maksud dan tujuan tersendiri. Bagi orang awam, pendidikan hanya berfungsi sebagai wahana untuk belajar dan mengajar. Akan tetapi, sebenarnya pendidikan tidak hanya memiliki fungsi yang sesederhana itu. Selain berfungsi sebagai proses sosialisasi untuk mentransfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi untuk mengembangkan potensi peserta didik. Lebih luas lagi, pendidikan juga berfungsi sebagai sarana untuk mentransfer kebudayaan. Hal itu bertujuan untuk mempertahankan dan melestarikan sebuah kebudayaan.

Oleh sebab itu, pemahaman tentang pendidikan dan nilai-nilai budaya sangat dibutuhkan. Apalagi di zaman modern seperti sekarang, banyak fenomena yang terjadi pada generasi muda yang lebih menyukai budaya dari bangsa lain daripada budaya bangsanya sendiri. Maka dari itu pendidikan diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai budaya bangsa. Karena pada dasarnya generasi muda lebih banyak melakukan sosialisasi di lembaga pendidikan  dengan teman-teman sebaya mereka. Sehingga apa yang mereka peroleh dari lembaga pendidikan akan berpengaruh besar terhadap kehidupan mereka di dalam masyarakat. Selain itu, sebuah pendidikan juga diharapkan mampu untuk tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional yang masih dianggap sebagai nilai-nilai luhur yang harus dilestarikan.

B.                 Rumusan Masalah
Berdasakan latar belakang di atas, dalam makalah ini akan dibahas beberapa hal sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud pendidikan?
2.      Apa saja fungsi dari pendidikan?
3.      Apa yang dimaksud kebudayaan?
4.      Bagaimana pengaruh pendidikan terhadap penanaman nilai-nilai budaya?

C.                Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui pengertian dari pendidikan.
2.      Mengetahui fungsi-fungsi pendidikan.
3.      Mengetahui pengertian dari kebudayaan.
4.      Mengetahui pengaruh pendidikan terhadap penanaman nilai-nilai budaya.

5.       
BAB II
PEMBAHASAN

A.                Pengertian Pendidikan
Menurut konsep yang dikemukakan oleh Freeman Butt dalam bukunya yang terkenal Cultural History of Western Education bahwa:
Pendidikan adalah kegiatan menerima dan memberikan pengetahuan sehingga kebudayaan dapat diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya.
Menurut Hasan Langgulung dalam bahasanya mengenai pendidikan adalah aktifitas yang dikerjakan oleh pendidikan dan filsafat-filsafat untuk menjelaskan proses pendidikan, menyelaraskan, mengkritik dan merubahnya berdasar masalah-masalah kontradiksi budaya.
Dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan adalah sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.

B.                 Fungsi-fungsi Pendidikan
Di dalam masyarakat yang pluralistik akan di jumpai beraneka ragam nilai-nilai dan pandangan hidup dari berbagai kelompok masyarakatyang memiliki latar belakang budayaberbeda. Bagi bangsa Indonesia, walaupun terdiri dari berbagai suku bangsa dengan beraneka ragam latar belakang budaya tetapi telah memiliki satu pandangan hidup yaitu Pancasila.
Meskipun demikian, pelaksanaanya sering menghadapi masalah karena kurangnya pemahaman secara konseptual terhadap nilai-nilai luhur yang dianut masyarakat. Maka dari itu pendidikan diharapkan untuk tetap melestarikan nilai-nilai yang masih dianggap sebagai nilai luhur bangsa.
Selain hal itu pendidikan juga diharapkan sebagai alat atau wahana untuk mempercepat perubahan sosial karena bagi masyarakat modern pendidikan dianggap sebagai peranan kunci dari tujuan sosial.
1.      Pendidikan sebagai lembaga konservatif
a.       Fungsi sosialisasi
Sekolah mengajarkan kepada anak-anak gambaran tentang apa yang dicita-citakan oleh lembaga sosialnya. Anak-anak didorong, dibimbing dan diarahkan untuk mengikuti pola perilaku masyarakat  yang semuanya itu merupakan wujud nyata dari budaya masyarakat yang berlaku.
b.      Fungsi kontrol sosial
Di sekolah anak-anak diajarkan tentang pendidikan moral. Melalui pendidikan moral secara berangsur-angsur akan mengurangi sifat egois menuju pribadi yang memiliki kesadaran dan tanggung jawab sosial. Sekolah selalu memonitor perkembangan kepribadian agar terhindar dari perilaku yang merusak.
c.       Pelestarian budaya masyarakat
Untuk melestarikan nilai-nilai budaya daerah dapat dilakukan dengan penggunaan bahasa daerah, adanya ekstrakurikuler yang berhubungan dengan kesenian daerah dan pendayagunaan sumber daya lokal bagi kepentingan sekolah.
d.      Latihan dan pengembangan tenaga kerja
Di dalam masyarakat industri memerlukan tenaga kerja yang terlatih, profesional dan terampil. Untuk memenuhi tuntutan tersebut sekolah-sekolah akademi dan perguruan tinggi dilengkapi dengan berbagai pelajaran yang menyediakan berbagai kelengkapan, konsultan, anggaran serta bantuan keuangan kepada siswa yang cakap.
e.       Seleksi dan alokasi
Sistem pendidikan kontemporer di dalam masyarakat industri wajib belajar pada pendidikan dasar. Beberapa anak kemudian diijinkan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Tetapi hanya mereka yang dapat lulus dari proses seleksi tertentu yang dapat melanjutkan pendidikan dan unutk memasuki tingkat pendidikan yang lebih tinggi perlu harus memenuhi pembiayaan tertentu.
2.      Pendidikan sebagai lembaga perubahan sosial
a.       Reproduksi budaya
Dalam funsinya sebagai upaya reproduksi budaya, sekolah terutama Perguruan Tinggi diharapkan dapat menjalankan funsinya sebagai pusat penelitian dan pengembangan. Selama masa proses industrialisasi dan modernisasi pendidikan digunakan untuk mengajarkan nilai-nilai serta kebiasaan-kebiasaan baru.
b.      Difusi kultural
Penemuan-penemuan dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan yang lahir dari aktivitas penelitian dan pengembangan agar dapat digunakan oleh seluruh masyarakat, maka program penyebarluasan hasil-hasilnya perlu segera dilakukan.
c.       Peningkatan kemampuan analisa kritis
Pendidikan berperan menanamkan keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai baru tentang cara berfikir manusia. Pendidikan mampu menciptakan generasi baru dengan daya kreasi dan kemampuan berfikir kritis, sikap tidak mudah menyerah pada situasi yang ada, dan diganti dengan sikap tanggap terhadap perubahan.
d.      Modifikasi hierarki ekonomi sosial
Upaya pengembangan berfikir kritis berpengaruh terhadap perjuangan kearah persamaan hak-hak baik politik,sosial dan ekonomi. Misalnya di dalam masyarakat tradisional lembaga ekonomi didominasi oleh kaum bangsawan dan golongan elite yang berkuasa. Dengan berfikir kritis maka lahirlah lembaga ekonomi yang berazas keadilan, pemerataan dan persamaan.

Fungsi-fungsi pendidikan menurut Metta Spencer
1.      Memindahkan nilai-nilai budaya
Pendidikan sebagai proses kegiatan untuk memindahkan pengetahuan, sikap dan kemampuan dari satu generasi ke generasi yang lebih muda. Siswa akan memperoleh nilai-nilai budaya dari proses interaksi antara guru dan siswa yang kemidian sebagian besar akan tercermin dalam sikap dan perilakunya sehari-hari.
2.      Nilai-nilai pengajaran
Fungsi mengenai nilai-nilai pengajaran berhubungan dengan kontrol sosial karena sekolah merupakan tempat di mana siswa mengalami proses sosialisasi. Sekolah mengajarkan nilai-nilai baru yang berbeda dengan nilai-nilai yang berlaku di dalam keluarga.
3.      Peningkatan mobilitas sosial
Pendidikan menyediakan kesempatan yang sama bagi anak untuk memperolaeh pengetahuan dan ketrampilan. Siapa saja yang berprestasi akan mendapat kesempatan untuk memperoleh pekerjaan sesuai dengan bidangnya. Walaupun semula berasal dari golongan menengah kebawah, mereka akan mendapat pekerjaan yang baik asal mampu memenuhi persyaratan.
4.      Fungsi sertifikasi
Lembaga-lembaga pendidikan memberikan sertifikat bagi siswanya yang telah menyelesaiakan tingkat pendidikan tertentu dalam bentuk ijazah. Surat keterangan tersebut berguna untuk memperoleh pekerjaan sesuai bidang yang dikuasainya. Pekerjaan yang lebih baik akan direbut oleh mereka yang memiliki sertifikat tertentu.
5.      Job training
Job training dimaksudkan untuk memberikan latihan sebelum memangku pekerjaannya yang tetap. Karena di dalam masyarakat modern jenis pekerjaan begitu kompleks dan rumit sehingga tamatan pendidikan formal tertentu dikhawatirkan belum dapat langsung paham terhadap  pekerjaan yang harus dilakukannya.

6.      Mengembangkan dan memantapkan hubungan sosial
Walaupun anak-anak telah memperoleh pengalaman bergaul dalam lingkungan atau keluarga, tetapi aspek hubungan sosial banyak terbentuk melalui kelompok sebaya di sekolah. Melalui hubungan antaranak yang selalu diawasi guru mereka akan berkembang sifat-sifat yang negatif menjadi sifat-sifat positif.
7.      Membentuk semangat kebangsaan
Sekolah mengajarkan sejarah bangsanya, simbol-simbol kebangsaan, dan mengajarkan penghargaan terhadap para pahlawan bangsa serta peninggalan-peninggalan sejarah dimaksudkan untuk menanamkan rasa kebangsaan serta kesediaan membela tanah air terhadap serangan musuh.

C.                Pengertian Kebudayaan
            Di lihat dari sudut bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari Bahasa Sansekerta “buddhayah”. Yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Kebudayaan secara keseluruhan adalah hasil usaha manusia untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya.
Kebudayaan : Cultuur (Bahasa Belanda), Culture (Bahasa Inggris), berasal dari perkataan latin “Colere” yang berarti olah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti ini berkembanglah arti culture “segala daya dan aktivitet manusia untuk mengolah dan mengubah alam.
Tylor, menyatakan bahwa kebudayaan (culture) atau peradaban (civilization) merupakan keseluruhan komplek meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, aturan, kebiasaan, dan semua kemampuan-kemampuan (Elmer S. Miller, 1979: 38)
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan adalah suatu hasil usaha manusia (pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, aturan, kebiasaan, dan semua kemampuan-kemampuan) yang diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

D.    Pengaruh Pendidikan terhadap Penanaman Nilai-nilai Budaya
Menurut DR. Sahiq Sama'an dalam al-Syaibany (1979) pendidikan adalah  kegiatan yang dilakukan oleh pendidik-pendidik dan filosofis untuk menerangkan, menyelaraskan, mengecam dan merubah proses pendidikan dengan persoalan-persoalan kebudayaan dan unsur-unsur yang bertentangan didalamnya.
Dilihat dari sudut pandang individu, pendidikan merupakan usaha untuk menimbang dan menghubungkan potensi individu. Adapun dari sudut pandang kemasyarakatan, pendidikan merupakan usaha pewarisan nilai-nilai budaya dari generasi tua kepada generasi muda, agar nilai-nilai budaya tersebut tetap terpelihara, tulis Hasan Langgulung.
Maka sudah jelas bahwa pendidikan dan kebudayaan sangat erat sekali hubungan karena keduanya berkesinambungan, keduanya saling mendukung satu sama lainnya.
Dalam konteks ini dapat dilihat hubungan antara pendidikan dengan tradisi budaya serta kepribadian suatu masyarakat betapapun sederhananya masyarakat tersebut. Hal ini dapat dilihat bahwa tradisi sebagai muatan budaya senantiasa terlestarikan dalam setiap masyarakat, dari generasi ke generasi. Hubungan ini tentunya hanya akan mungkin terjadi bila para pendukung nilai tersebut dapat menuliskannya kepada generasi mudanya sebagai generasi penerus.
Transfer nilai –nilai budaya dimiliki paling efektif adalah melalui proses pendidikan. Dalam masyarakat modern proses pendidikan tersebut didasarkan pada program pendidikan secara formal. Oleh sebab itu dalam penyelenggarannya dibentuk kelembagaan pendidikan formal.
Seperti dikemukakan Hasan Langgulung bahwa pendidikan mencakup dua kepentingan utama, yaitu pengembangan potensi individu dan pewarisan nilai-nilai budaya. Maka sudah jelas sekali bahwa kedua hal tersebut pendidikan dan kebudayaan berkaitan erat dengan pandangan hidup suatu masyarakat atau bangsa itu masing-masing, kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan karena saling membutuhkan antara satu sama lainnya.
Dikatakan dengan pendapat Hasan Langgulung bahwa pendidikan dalam hubungan dengan individu dan masyarakat, akan tetapi dapat dilihat bagaimana garis hubung antara pendidikan dan sumber daya manusia. Dari sudut pandangan individu pendidikan merupakan usaha untuk mengembangkan potensi individu, sebaliknya dari sudut pandang kemasyarakatan pendidikan adalah sebagai pewarisan nilai-nilai budaya.
Dalam pandangan ini, pendidikan mengemban dua tugas utama, yaitu peningkatan potensi individu dan pelestarian nilai-nilai budaya. Manusia sebagai mahluk berbudaya, pada hakikatnya adalah pencipta budaya itu sendiri. Budaya itu kemudian meningkatkan sejalan dengan peningkatan potensi manusia pencipta budaya itu.




































BAB III
PENUTUP
A.                Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan:
·         Pendidikan adalah usaha untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.
·         Fungsi pendidikan sangat banyak dan beragam. Salah satunya adalah sebagai lembaga konservatif budaya.
·         Kebudayaan adalah suatu hasil usaha manusia (pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, aturan, kebiasaan, dan semua kemampuan-kemampuan) yang diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
·         Antara pendidikan dan kebudayaan, terdapat hubungan yang erat dan tidak bisa dipisahkan. Di mana pendidikan sangat berpengaruh dalam proses pentransferan nilai-nilai budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya agar nilai-nilai budaya tetap lestari dan bertahan.

B.                Saran
Mengingat pentingnya pendidikan dalam penanaman nilai-nilai budaya, maka:
·         Bagi para pendidik: tidak hanya mendidik dan mengajarakan mata pelajaran wajib yang diembannya. Tetapi di samping itu, harus tetap menanamkan nilai-nilai budaya masyarakat di sela-sela mata pelajaran yang diajarkan.
·         Bagi para peserta didik: hendaknya mereka antusias dan ikut berpartisipasi aktif dalam penanaman nilai-nilai budaya.
·         Bagi masyarakat umum: tetap mendukung dan membantu lembaga pendidikan dalam proses menanamkan nilai-nilai budaya masyarakat setempat. Karena bagimanapun juga budaya juga bersumber dari lingkungan masyarakat sekitar.
DAFTAR PUSTAKA

Wuradji, Dr. M.S. 1988. Sosiologi Pendidikan. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Ahmad, Abu, Drs. H. 2007. Sosiologi Pendidikan. Jakarta. PT. Asdi Mahasatya
Pendidikan Dan Perubahan Kebudayaan. 2013. Dari http://fadillawekay.wordpress.com/2013/04/25/pendidikan-dan-perubahan-kebudayaan/ [diakses pada 09 September 14].

0 comment:

Posting Komentar