Pages

Kamis, 17 Maret 2016

Rendahya Kemampuan Meenulis Mahasiswa di Indonesia



Melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi memang suatu hal yang membanggakan dan menggembirakan bagi sebagian besar lulusan Sekolah Menengah Atas atau yang sederajat. Sebagian dari mereka menganggap bahwa kuliah itu lebih mudah dan santai dari pada ketika di Sekolah Menengah Atas. Tetapi ketika mereka mulai masuk dan menjalani kehidupan di perkuliahan, tidak jarang sebagian besar dari mereka yang merasa bingung untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing, terutama yang berkaitan dengan tulis menulis seperti membuat laporan praktikum, laporan penelitian dan karya tulis yang lain.

Tugas-tugas seperti itu telah  dipelajari dan  dilaksanakan semenjak  berada di bangku Sekolah Menengah Pertama. Bisa dikatakan kurang lebih sudah enam tahun belajar bagaimana membuat karya tulis. Tetapi pada saat  diberi tugas oleh dosen pembimbing untuk membuat karya tulis ilmiah, bingung bagaimana mengerjakannya.
Kemampuan menulis mahasiswa di Indonesia masih tergolong rendah, karena sedikitnya karya ilmiah mahasiswa Indonesia yang diterima di ranah internasional, bila dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. “Berdasarkan data dari Indonesian Scientific Database terdata sekitar 13.047 buah jurnal di Indonesia yang berkategori ilmiah yang masih aktif. Jumlah itu masih kalah jauh dari Malaysia yang sudah mencapai 55.211 buah jurnal, bahkan Thailand yang sampai 58.931 buah” (Pontianak Post/12/5)
Kurangnya minat mahasiswa itu sendiri untuk menulis bisa menjadi penyebab rendahnya kemampuan mahasiswa dalam menulis. Nurcahyono, Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengatakan “Indonesia sebagai negara berpenduduk 165,7 juta jiwa lebih hanya memiliki jumlah terbitan buku 50 juta per tahun, sedangkan di Amerika dengan jumlah penduduk berkisar 285,5 juta jiwa memiliki jumlah terbitan buku 1 miliar per tahun”.  Artinya satu orang Amerika mampu menulis empat sampai lima judul buku, sedangkan satu orang Indonesia mampu menulis tiga judul buku.
Rendahnya minat membaca masyarakat di Indonesia juga bisa sebagai penyebabnya. Dibandingkan dengan negara lain Jepang misalnya, minat membaca orang Indonesia masih tergolong rendah. Orang-orang di Jepang sering membawa buku ketika bepergian. Di tempat-tempat umum seperti stasiun dan halte tidak jarang terlihat orang-orang membaca buku sambil menunggu kereta atau bus datang.
Kurangnya minat membaca juga dibuktikan dari hasil penelitian yang dilakukan di salah satu universitas negeri di Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa 79,20% mahasiswa kadang-kadang memiliki keinginan untuk membaca. Setelah ditelusuri lebih lanjut, kadang-kadang memiliki keinginan untuk membaca cenderung mengarah kurang memiliki minat untuk membaca.   
Sebab lain dari rendahnya kemampuan menulis mahasiswa di Indonesia misalnya kemajuan teknologi, terutama di bidang informasi dan komunikasi. Kemudahan mengakses informasi lewat internet dimanapun dan kapanpun berdampak negatif bagi mahasiswa Indonesia. Sebagian besar menggunakan cara-cara yang instan untuk menyelesaikan tugas dari dosen. Hanya mengetikkan kata kunci di web browser dan menyalin hasil karya orang lain. Dulu ada istilah yang menyatakan bahwa “buku adalah jendela dunia” tetapi di era globalisasi ini kemungkinan sudah berubah menjadi “internet adalah jendela dunia”. Memang bisa saja mencari referensi dari internet, tetapi referensi dari buku tetap yang paling baik. Karena semua yang tertulis di dalam buku dapat dipertanggung jawabkan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis mahasiswa di Indonesia masih tergolong rendah. Hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah kurangnya minat menulis, jika dari dalam diri mahasiswa itu telah tertanam rasa enggan untuk menulis maka sampai kapanpun tidak akan mencoba untuk menulis.
Minat membaca yang kurang juga berpengaruh terhadap kemampuan menulis. Hal itu karena agar bisa menulis maka dibutuhkan referensi yang cukup dan itu dapat diperoleh dengan banyak membaca. Kemajuan teknologi juga berbengaruh besar. Mudahnya mengakses informasi akan membuat para mahasiswa malas untuk menulis dan mengerjakan tugas sesuai dengan ide sendiri sehingga hal yang dilakukan adalah menyalin karya orang lain yang didapat dari internet.
Setelah mengetahui bahwa kemampuan menulis mahasiswa di Indonesia masih tergolong rendah, sudah seharusnya mulai sadar dan berusaha untuk meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa.  Langkah yang bisa dilakukan misalnya menumbuhkan motivasi untuk menulis dan  membaca. Mengapa demikian, karena menulis dan membaca adalah satu kesatuan. Darimana seseorang bisa menulis tanpa mencari referensi dari membaca. Kedua adalah mencoba untuk mengikuti lomba-lomba tentang penulisan yang diadakan baik oleh pemerintah maupun lembaga masyarakat yang lain. Seringnya mengikuti lomba, pasti akan terpacu untuk lebih banyak menuangkan ide-ide yang dimiliki dalam bentuk sebuah tulisan.
Banyaknya hasil tulisan ilmiah yang dihasilkan oleh mahasiswa Indonesia, diharapkan mampu menularkan ilmu yang telah didapatkan kepada masyarakat luas di Indonesia. Yang nantinya akan membawa negara ini memiliki sumber daya manusia yang berkualitas.

     










DAFTAR RUJUKAN
Fathurrahman, R. 12 Maret 2012. Jurnal Publikasi Karya Ilmiah. Pontianak Post, hlm. 11.
Hardianto, D. 2010. Studi Tentang Minat Baca Mahasiswa FIP UNY, (Online), (http://www.staff.uny.ac.id/html), diakses 11 September 2014.
Putri, A Imaniar. 2013. Kualitas Suatu Bangsa Berawal dari Buku, (Online), (http://www.ilmuberbagi.or.id/html), diakses 23 September 2014.

0 comment:

Posting Komentar