Melanjutkan pendidikan ke Perguruan
Tinggi memang suatu hal yang membanggakan dan menggembirakan bagi sebagian
besar lulusan Sekolah Menengah Atas atau yang sederajat. Sebagian dari mereka
menganggap bahwa kuliah itu lebih mudah dan santai dari pada ketika di Sekolah
Menengah Atas. Tetapi ketika mereka mulai masuk dan menjalani kehidupan di
perkuliahan, tidak jarang sebagian besar dari mereka yang merasa bingung untuk
memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing, terutama yang berkaitan dengan
tulis menulis seperti membuat laporan praktikum, laporan penelitian dan karya
tulis yang lain.
Tugas-tugas seperti itu telah dipelajari dan dilaksanakan semenjak berada di bangku Sekolah Menengah Pertama. Bisa
dikatakan kurang lebih sudah enam tahun belajar bagaimana membuat karya tulis.
Tetapi pada saat diberi tugas oleh dosen
pembimbing untuk membuat karya tulis ilmiah, bingung bagaimana mengerjakannya.
Kemampuan menulis mahasiswa di
Indonesia masih tergolong rendah, karena sedikitnya karya ilmiah mahasiswa
Indonesia yang diterima di ranah internasional, bila dibandingkan dengan negara
lain di Asia Tenggara. “Berdasarkan data dari Indonesian Scientific Database terdata sekitar 13.047 buah jurnal
di Indonesia yang berkategori ilmiah yang masih aktif. Jumlah itu masih kalah
jauh dari Malaysia yang sudah mencapai 55.211 buah jurnal, bahkan Thailand yang
sampai 58.931 buah” (Pontianak Post/12/5)
Kurangnya minat mahasiswa itu
sendiri untuk menulis bisa menjadi penyebab rendahnya kemampuan mahasiswa dalam
menulis. Nurcahyono, Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan Nasional Republik
Indonesia mengatakan “Indonesia sebagai negara berpenduduk 165,7 juta jiwa
lebih hanya memiliki jumlah terbitan buku 50 juta per tahun, sedangkan di Amerika
dengan jumlah penduduk berkisar 285,5 juta jiwa memiliki jumlah terbitan buku 1
miliar per tahun”. Artinya satu orang Amerika mampu menulis
empat sampai lima judul buku, sedangkan satu orang Indonesia mampu menulis tiga
judul buku.
Rendahnya minat membaca masyarakat
di Indonesia juga bisa sebagai penyebabnya. Dibandingkan dengan negara lain Jepang
misalnya, minat membaca orang Indonesia masih tergolong rendah. Orang-orang di
Jepang sering membawa buku ketika bepergian. Di tempat-tempat umum seperti stasiun
dan halte tidak jarang terlihat orang-orang membaca buku sambil menunggu kereta
atau bus datang.
Kurangnya minat membaca juga
dibuktikan dari hasil penelitian yang dilakukan di salah satu universitas
negeri di Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa 79,20%
mahasiswa kadang-kadang memiliki keinginan untuk membaca. Setelah ditelusuri
lebih lanjut, kadang-kadang memiliki keinginan untuk membaca cenderung mengarah
kurang memiliki minat untuk membaca.
Sebab lain dari rendahnya kemampuan
menulis mahasiswa di Indonesia misalnya kemajuan teknologi, terutama di bidang
informasi dan komunikasi. Kemudahan mengakses informasi lewat internet dimanapun
dan kapanpun berdampak negatif bagi mahasiswa Indonesia. Sebagian besar
menggunakan cara-cara yang instan untuk menyelesaikan tugas dari dosen. Hanya mengetikkan
kata kunci di web browser dan
menyalin hasil karya orang lain. Dulu ada istilah yang menyatakan bahwa “buku
adalah jendela dunia” tetapi di era globalisasi ini kemungkinan sudah berubah
menjadi “internet adalah jendela dunia”. Memang bisa saja mencari referensi
dari internet, tetapi referensi dari buku tetap yang paling baik. Karena semua
yang tertulis di dalam buku dapat dipertanggung jawabkan.
Dari uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa kemampuan menulis mahasiswa di Indonesia masih tergolong
rendah. Hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah kurangnya
minat menulis, jika dari dalam diri mahasiswa itu telah tertanam rasa enggan
untuk menulis maka sampai kapanpun tidak akan mencoba untuk menulis.
Minat membaca yang kurang juga berpengaruh
terhadap kemampuan menulis. Hal itu karena agar bisa menulis maka dibutuhkan
referensi yang cukup dan itu dapat diperoleh dengan banyak membaca. Kemajuan
teknologi juga berbengaruh besar. Mudahnya mengakses informasi akan membuat
para mahasiswa malas untuk menulis dan mengerjakan tugas sesuai dengan ide
sendiri sehingga hal yang dilakukan adalah menyalin karya orang lain yang didapat
dari internet.
Setelah mengetahui bahwa kemampuan
menulis mahasiswa di Indonesia masih tergolong rendah, sudah seharusnya mulai
sadar dan berusaha untuk meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa. Langkah yang bisa dilakukan misalnya
menumbuhkan motivasi untuk menulis dan
membaca. Mengapa demikian, karena menulis dan membaca adalah satu
kesatuan. Darimana seseorang bisa menulis tanpa mencari referensi dari membaca.
Kedua adalah mencoba untuk mengikuti lomba-lomba tentang penulisan yang diadakan
baik oleh pemerintah maupun lembaga masyarakat yang lain. Seringnya mengikuti
lomba, pasti akan terpacu untuk lebih banyak menuangkan ide-ide yang dimiliki
dalam bentuk sebuah tulisan.
Banyaknya hasil tulisan ilmiah yang
dihasilkan oleh mahasiswa Indonesia, diharapkan mampu menularkan ilmu yang
telah didapatkan kepada masyarakat luas di Indonesia. Yang nantinya akan
membawa negara ini memiliki sumber daya manusia yang berkualitas.
DAFTAR RUJUKAN
Fathurrahman, R.
12 Maret 2012. Jurnal Publikasi Karya Ilmiah. Pontianak Post, hlm. 11.
Hardianto, D.
2010. Studi Tentang Minat Baca Mahasiswa FIP UNY, (Online), (http://www.staff.uny.ac.id/html),
diakses 11 September 2014.
Putri, A
Imaniar. 2013. Kualitas Suatu Bangsa Berawal dari Buku, (Online), (http://www.ilmuberbagi.or.id/html),
diakses 23 September 2014.

0 comment:
Posting Komentar